Subscribe Us

Menyiapkan Karier Anak Sejak Dini Ala Bukik Setiawan

Menyiapkan Karier Anak Sejak Dini Ala Bukik Setiawan

Menyiapkan Karier Anak Sejak Dini Ala Bukik Setiawan

DISKUSIKEHIDUPAN.com – Edisi postingan kali ini adalah sajian kutipan tulisan dari Bukik Setiawan dalam buku karyanya yang berjudul “Bakat Bukan Takdir”. Pada halaman 238-240, Bukik membuat epilog buku yang sangat reflektif. Berikut adalah tulisan itu.




Ketika masih menjadi dosen di Fakultas Psikologi Unair, saya mengajar suatu mata kuliah yang diikuti oleh mahasiswa menjelang lulus. Dalam kuliah itu, saya melontarkan pertanyaan: “Apa kekuatan/kelebihan Anda? Setelah lulus, Anda berencana menekuni profesi apa?”

Bagi saya, dua pertanyaan itu adalah pertanyaan dasar karier. Pertanyaan pertama menggali pemahaman mahasiswa tentang dirinya sendiri, apa yang dapat dibanggakan dari dirinya. Pertanyaan kedua menggali arah karier mahasiswa, bagaimana mahasiswa menggunakan kekuatannya agar bermanfaat di bidang profesi tertentu. Kalau dalam versi anak TK, pertanyaan kedua ini bunyinya, “Kalau besar nanti, kamu mau jadi apa?”



Saya berharap mahasiswa tahap akhir dapat menjelaskan jawaban atas dua pertanyaan dasar tersebut. Lebih dari sekedar jawaban seorang anak TK, “Mau jadi dokter. Eh, enggak. Aku mau jadi presiden.” Mirip jawaban Toto Chan yang cita-citanya dapat berubah dalam hitungan menit ketika sedang naik kereta bersama ibunya.

BACA JUGA : Belajar di Rumah, WFH, dan Momentum Kebersamaan

Rupanya, mahasiswa bukanlah anak TK. Anak TK menjawab lepas pertanyaan itu. Kebanyakan mahasiswa justru kesulitan menjawab dua pertanyaan tersebut. Hanya sekitar 10% mahasiswa, empat dari 40 mahasiswa, yang menjawab pertanyaan itu. Temuan serupa tidak hanya pada satu angkatan, tapi beberapa angkatan yang pernah saya ajar.

Apa jadinya ketika menjelang lulus sarjana, tapi belum dapat menjawab dua pertanyaan dasar itu? Tidak ada yang diperjuangkan. Lulus sarjana berarti kirim surat lamaran kerja ke mana saja selama diterima bekerja. Bekerja apa saja selama gajinya cocok. Jadi sarjana psikologi, sarjana teknik, atau sarjana filsafat sama tidak pentingnya, yang penting lulus sarjana karena sarjana mendapat gaji lebih besar dibandingkan lulusan SLTA.



Mengapa mahasiswa tahap akhir tidak dapat menjawab pertanyaan dasar tersebut? Ya karena pendidikan kita menyiapkan tenaga kerja, tapi tidak menyiapkan anak kita untuk berkarier. Kita berharap pada usia 18 tahun, anak telah menjadi pribagi mandiri. Kita pun sebagai pendidik tidak membantu mereka mengenali diri sendidi dan dunia karier yang sesuai potensinya.

Untuk mendiri pada usia 18 tahun, butuh kematangan yang harus dipersiapkan sejak dini. Proses mengenali diri sendiri tidak instan, seperti mie atau ikut tes sidik jari, tapi proses sepanjang hidup. Proses mengenal makna bekerja dan berkarya tidak sesingkat PKL (Praktik Kerja Lapangan), atau KKN (Kuliah Kerja Nyata) selama 3 bulan saja, tapi proses berliku yang butuh jatuh bangun.

Ingin anak berkarier cemerlang? Ayo segera persiapkan diri untuk menjadi orangtua menumbuhkan, yang peduli dan mampu mendampingi anak-anak tumbuh menjadi pribadi mandiri, bertanggung jawab, gemar dan tekun belajar mengatasi berbagai tantangan di zaman kreatif.




Bakat Bukan Takdir, Begitu Juga Karier

Pada zaman dahulu, karier dianggap sebagai titik, jabatan, atau predikat yang disandang. Sekarang, muncul kesadaran bahwa titik itu adalah bagian dari sebuah garis. Ada orang yang gembira karena mendapat jabatan dan menganggap jabatan itu untuk selamanya. Katika masa jabatan habis, orang itu bingung dan seolah kiamat tiba. Ya, karier bukanlah titik. Karier adalah sebuah garis yang membentang sejak kita lahir, bermain, belajar, berkarya, hingga meninggal dunia nanti. Karier adalah garis perjalanan hidup yang berliku, naik-turun, curam-landai, kering-basah, dan terjal-tertata.



Sudahkah kita sebagai pendidik menyiapkan anak untuk melalui garis karier yang berliku itu?

Persiapan karier anak bukan pada saat anak sudah masuk ke tahap berkarier, seperti yang banyak terjadi saat ini. Terlambat! Persiapan pentas saja jauh-jauh hari sebelum anak naik ke panggung, bukan ketika sudah di panggung, bukan ketika sudah di panggung baru repot menyiapkan anak. Begitu pula dengan persiapan karier yang dilakukan jauh sebelum tahap berkarier agar anak telah mempunyai kesiapan untuk menjalani karier cemerlang.

Demikian catatan singkat dari Bukik Setiawan dalam buku Bakat Bukan Takdir. Semoga bermanfaat.



Post a comment

0 Comments