Subscribe Us

Belajar Membaca Dari Bung Hatta

Belajar Membaca Dari Bung Hatta

Belajar Membaca Dari Bung Hatta


Tuhan terlalu cepat semua
Kau panggil satu-satunya yang tersisa
Proklamator tercinta...
Jujur lugu dan bijaksana
Mengerti apa yang terlintas dalam jiwa
Rakyat Indonesia...

Hujan air mata dari pelosok negeri
Saat melepas engkau pergi...
Berjuta kepala tertunduk haru
Terlintas nama seorang sahabat
Yang tak lepas dari namamu...
Terbayang baktimu, terbayang jasamu
Terbayang jelas... jiwa sederhanamu
Bernisan bangga, berkapal doa
Dari kami yang merindukan orang
Sepertimu...

DISKUSIKEHIDUPAN.com - Lirik lagu di atas digubah oleh Iwan Fals untuk mengenang Mohammad Hatta dengan judul Bung Hatta. Lagu itu telah menciptakan haru tersendiri, tatkala teringat dengan perjuangan Bung Hatta. Pada tulisan kali ini, akan kita ulas pengalaman membaca Mohammad Hatta yang sangat dikenal dengan tradisi membacanya, yang oleh Deliar Noer dalam buku Biografi Politik Bung Hatta (1990:143) disebut ‘pembaca dan pencatat yang cermat.’ Tulisan ini diambil dari Memoar-nya (1982).





Pada awal menjadi murid di Prins Hendrik School (PHS) Jakarta pada tahun 1919 (pada saat berumur 17 tahun), ia bertutur, “Selagi melihat-lihat buku di sana, tampak oleh Mak Etek Ayub tiga macam buku yang dianggapnya perlu aku baca nanti, yaitu NG Pierson, Staathuishoudkunde, 2 jilid; HP Quach, De Socialisten, 6 jilid; Bellamy, Het Jaar 200. Inilah buku-buku yang bermula kumiliki yang menjadi dasar perpustakaanku.”

BACA JUGA : Covid-19 dan Belajar di Rumah; Momentum Menggairahkan Semangat Membaca

“Malam itu juga kumulai membaca buku Bellamary. Waktu aku akan tidur lewat tengah malam, sudah lebih seperempat isi buku itu kubaca. Barangkali akan terus kubaca sampai tamat, apabila besok harinya aku tidak mesti sekolah. Pembacaan itu besok harinya kuteruskan sampai tamat buku itu kubaca. Bacaan itu kuanggap bacaan pertama.”



“Biasanya buku-buku mengenai mata pelajaran aku pelajari pada malam hari. Buku-buku lainnya, buku roman dan buku tambahan untuk meluaskan pengetahuan kubaca pada sore hari sesudah pukul 16.00 atau 16.30. Setelah tiga kali berturut-turut buku Bellamy tamat kubaca, kumulai membalik-balik buku Quack, De Socialisten yang 6 jilid itu.”

“Pada vakansi besar pertengahan tahun 1920, aku pulang ke Bukittinggi. Di situ dapat kubaca kembali uraian Quack tentang Robert Owen dalam De Socialisten jilid 2 seluruhnya. Waktu itu, dapat pula kubaca uraian Quack tentang Ferdinand Lassalle dari De Socialisten jilid 4. Aku asyik membacanya dan aku pandang pujangga sosialis itu penuh romantik. Setelah aku memperoleh buku-buku dari Mak Etek Ayub, aku tidak banyak lagi keluar berjalan-jalan dengan sepeda seperti sebelumnya.”

BACA JUGA: COVID-19, Dari Candaan, Isu Konspirasi, Hingga Kepanikan Kita

Dua tahu kemudian (1921), pada saat Mohammad Hatta melanjutkan studinya di negeri Belanda, atau pun sedang mengadakan kunjungan ke Negara-negara lain, hal pertama yang dilakukannya adalah memborong buku. Seperti yang ia lakukan paa saat pergi ke Jerman, diantara buku-buku yang dibelinya adalah Gustav von Schmoller, Grundriss der Allgemeine Volkswirtschaftslehre, 2 jilid, 1.400 halaman; Bohm Bawerk, Kapital und Kapital Zins, 1.400 halaman; Werner Sombart, Der Moderne Kapitalismus, 4 jilid, 2.100 halaman; dan banyak lagi sampai beliau mengatakan, “Harta bukuku memang bertambah luas terus sejak aku kembali dari Hamburg tahun 1922.”



Mohammad Hatta memiliki disiplin membaca yang sangat hebat dalam perjalanan hidupnya. Pada saat studi di Belanda, ia memiliki agenda sebagai berikut:

“Menurut kebiasaan, pukul 7 malam aku sudah mulai belajar di kamarku sampai jam 12 tengah malam. Karangan-karangan untuk majalah Indonesia Merdeka biasanya kutulis sesudah jam 9 malam. Kadang-kadang aku belajar sampai pukul 2 tengah malam. Pada waktu itu, kerja larut malam itu senang sekali rasanya. Itulah dalam garis besar hidupku sehari-hari.” Kebiasaan seperti itu ia lanjutkan di Tanah Air, sekalipun dalam pembuangannya.


Terkadang untuk memahami sebuah buku, Mohammad Hatta memiliki tekad, ketekunan, dan kesabaran yang luar biasa, seperti penuturannya berikut ini:

“Sesudah aku sampai di rumah, aku mulai mempelajari buku Jellinek,  Allgemeine Staatslehre. Kupusatkan studiku pada buku ini, empat bulan lamanya. Sepanjang hari, hanya buku itu saja yang kupelajari. Buku-buku untuk mata pelajaran lain dan diktat hanya malam hari saja dapat kuperhatikan. Demikian juga karangan-karangan untuk Daulat Rakyat. Setiap hari aku minum Tonikum untuk memperkuat badan dan pikiran. Akan tetapi, sesudah 4 bulan badanku lesu dan otakku tak sanggup lagi menerima pelajaran baru. Ini kurasakan kira-kira dua minggu menjelang ujian pada akhir Juli 1932.”



Pada tahun yang sama, setelah menempuh ujian, Mohammad Hatta menyiapkan diri untuk pulang ke Indonesia. Tentu saja di antara barang bawaan yang turut serta ke Tanah Air adalah buku-bukunya.

BACA JUGA : Masihkah Kita Akan Mencandai Corona?

“Sesudah aku rencanakan bahwa buku-buku yang akan kubawa pulang tidak lebih banyak dari 2m³, dimuat dalam 16 peti besi yang masing-masing berukuran setengah meter kubik. Selebihnya kutinggalkan, kubagikan kepada dua orang teman dekat pada waktu itu.”

Bagi Bung Hatta, buku merupakan istri pertamanya. Ke mena pun ia pergi, buku selalu menyertainya, termasuk ke pembuangan sekalipun. Pada waktu ia hendak dibuang ke Boven Digul, ia meminta izin selama tiga hari kepada petugas untuk mengepak dulu buku-bukunya yang akan dibawa serta. Buku yang dibawa ke pembuangan pada wakti itu sejumlah 4m³ yang dibagi ke dalam 16 peti dengan ukuran masing-masing seperempat meter kubik.

Begitulah gambaran tentang semangat membaca Bung Hatta. Perjalanan hidupnya adalah sejarah membaca dan menulis. Dan inilah sesungguhnya salah satu warisannya yang paling berharga bagi bangsa Indonesia: MEMBACA.



Post a comment

0 Comments