Subscribe Us

Belajar Ilmu Parenting dari Kisah Sang Kodok

Belajar Ilmu Parenting dari Kisah Sang Kodok

Belajar Ilmu Parenting dari Kisah Sang Kodok

DISKUSIKEHIDUPAN.com – Seekor anak kodok tinggal di dalam keluarga yang damai dan rumah yang nyaman di sebuah bukit. Kedua orangtuanya sangat menyayanginya, sehingga ia memanggil si anak dengan sebutan “Princes” atau “Pangeran”. Semua kebutuhan sang anak dipenuhi oleh orangtuanya. Bahkan, apapun keinginannya dituruti.






BACA JUGA: Belajar Membaca Dari Bung Hatta


Suatu hari, ketika dia semakin besar, dia bermain ke bawah bukit dan bertemu dengan anak-anak kodok lainnya. Karena dia sering dipanggil “Pangeran”, maka dia merasa dirinya benar-benar seorang pangeran. Ia pun menjadi sombong dan merasa lebih hebat disbanding teman-temannya. Tentu saja teman-temannya menjadi tak suka padanya.





Ditertawakannya si kodok kecil itu. Sebagian ada yang memaki-makinya, bahkan ada yang melempari dengan lumpur. Betapa sang kodok merasa sedih karena merasa bahwa dirinya hanyalah kodok biasa. Bukan seorang pangeran. Dia merasa orangtuanya telah berbohong selama ini.



Krisis kejiwaan karena merasa bukan orang hebat dan kompeten oleh para ahli disebut imposter syndrome. Yaitu perasaan gelisah yang berlangsung lama karena merasa tidak cakap dalam bidang yang digeluti.





Meski banyak informasi yang menunjukkan bahwa sebenarnya dirinya adalah seorang yang kompeten di bidangnya, ia tetap merasa gelisah. Umumnya, gejala dari sindrom ini adalah merasa tidak sukses, tidak cerdas, bahkan bukan yang yang mengesankan. Gejala semacam ini bisa dialami oleh orang dari berbagai kalangan, baik eksekutif, ahli hokum, arsitek, artis, dan lain-lain. Bahkan banyak dialami oleh orang sukses dan terkenal.






Orang sukses yang mengidap gejala ini biasanya menganggap kesuksesannya hanyalah karena faktor keberuntungan. Dia gelisah karena merasa telah berhasil menipu orang lain, dan ia sangat cemas jika tak bisa mempertahankan atau mengulangi kesuksesan.





Menurut penelitian, sindrom ini salah satunya disebabkan oleh family label, yaitu orangtua memberikan label atau sebutan tertentu pada anaknya. Misalnya, seorang anak dilabeli “cengeng”. Sekian lama anak tumbuh besar sebenarnya cukup berprestasi, namun orangtuanya tidak mengubah persepsi mereka. Hal ini menimbulkan keraguan sang anak akan intelegensi dan potensinya, karena kontradiksi dengan label yang selama ini disandangnya. Family label menumbuhkan persepsi yang salah atas diri sang anak.



Penyebab lain, keluarga memberikan dukungan yang terlalu besar sehingga anak percaya bahwa dirinya sempurna. Ketika suatu saat sang anak tumbuh dan menghadapi tugas yang menantang, ia mulai meragukan persepsi orangtua tentang kehebatan dirinya. Atau mungkin mereka justru menyembunyikan kesulitannya agar tidak mengganggu image keluarga terhadapnya. Akibat dari kesulitan-kesulitan nomal ini, dia akhirnya meyakini bahwa dirinya cuma rata-rata, bahkan di bawah rata-rata.





Di balik pandangan orang yang kita anggap sukses, ternyata banyak yang mengalami penderitaan. Sebagai orangtua tentunya kita tak menginginkan hal itu.



Lalu, bagaimana cara mengasuh anak kita? Jangan sampai kita memupuk anak kita dengan sesuatu yang akan mengantarkan mereka pada masalah kejiwaab seperti di atas.


Tulisan ini disarikan dari buku “Bahagia Mendidik, Mendidik Bahagia,” karya Ida S. Widayanti.



Post a comment

0 Comments