Subscribe Us

Melatih Kemandirian Anak di Usia Baligh


Melatih Kemandirian Anak di Usia Baligh

DISKUSIKEHIDUPAN.com - Apakah anak-anak yang tetiba baligh bisa kita perlakukan sebagai manusia dewasa? Kita akan sulit mengakatan karena banyak anak baligh tapi sikapnya kekanakan. Kita mungkin baru menyebut anak itu dewasa saat sudah kuliah atau sudah memiliki pekerjaan. Apakah kedewasaan itu bisa kita munculkan lebih dini? Andaikan kita bisa memandang anak-anak kita yang baligh in sebagai manusia dewasa, bia jadi mereka akan sungguh-sungguh dewasa.

BACA JUGA : Fitrah Kemandirian Anak Dalam Masa Pertumbuhan

Beberapa contoh akan menunjukkannya. Edison membangun laboratoriumnya umur 14 tahun; Einstein menguasai kalkulus umur 16 tahun; Imam Syafi'i hafal al Quran umur 7 tahun dan diizinkan memberi fatwa di Masjidil Haram pada umur 15 tahun.





Baligh, Kemandirian, dan Tanggung Jawab

Pernahkah kita mengucapkan, "kamu kan sudah besar, kenapa sih mama harus mengingatkan kamu belajar, mengingatkan kamu sholat?" Kemudian di lain waktu, "kamu tidak usah membantah, pokoknya harus menuruti ucapan Bunda, kamu kan masih kecil!" Jadi, sebenarnya anak ini masih kecil atau sudah besar?





Baligh adalah masa datangnya tanggung jawab. Sebagian anak bisa jadi belum siap menghadapi datangnya baligh, karena orangtua tidak melaksanakan latihan kemandirian secara konsisten, sering mengambil alih urusan dan masalah anak, sering membantu dan menolong kesulitan anak, bahkan anak hanya sholat ketika disuruh orangtua, jadi tidak pernah mengalami rasa bersalah karena kelewatan sholat.

BACA JUGA : SERI ANAK MANDIRI (#4) : Membina Kemandirian Anak Usia 6 s.d 12 Tahun

Sebagian anak siap menghadapi datangnya baligh, karena orangtuanya sudah menuntaskan kemandirian anak dengan membiarkan urusan anak diselesaikan sendiri, mengurangi bantuan dan pertolongan untuk masalah anak dan biarkan mereka menyelesaikan masalahnya sendiri.

Tuntas kemandirian akan mengantarkan pada terbentuknya tanggung jawab anak dan inilah bekal menghadapi datangnya usia baligh.

Ketika anak masuk baligh, idealnya dia telah dianggap menjadi manusia dewasa yang memiliki tanggung jawab untuk memikirkan akibat dari perbuatannya, yang langsung bisa dirasakan adalah dampak terhadap orang disekitarnya, dan yang tidak nampak adalah akibat berupa pahala untuk kebaikan dan dosa untuk ketidakbaikan perilakunya. Oleh karena itu, agar anak-anak kita siap untuk bertanggung jawab seperti orang dewasa itu, tentunya latihan tanggung jawab yang harus kita lakukan.

BACA JUGA :SERI ANAK MANDIRI (#3) : Melatih Kemandirian Anak Usia 2-6 Tahun

Anak-anak perlu dilatih tanggung jawab pribadi, setidaknya untuk melakukan aktivitas bantu diri tanpa pelayanan atau bantuan orang lain, yaitu aktivitas rutin sehari-hari.





Anak perlu dilatih tanggung jawab sosial, agar memiliki sudut pandang yang tepat atas akibat perilakukanya pada orang disekitarnya. Sehingga anak akan selalu berfikir sebelum bertindak, apakah yang akan dilakukan bermanfaat atau malah merugikan orang lain.

Maksud kita mungkin untuk beberapa urusan sudah dianggap besarm tetapi untuk beberapa urusan dianggap kecil. Hal inilah yang akan membuat anak-anak bingung.

Agar terbentuk sikap semacam ini, pintu dialog yang akan paling mudah untuk menjadi mediator, dengan membiasakan anak untuk mengungkapkan perasaan ketika mendapat suatu perlakuan dan mengajaknya berpikir bagaimana perasaan orang ketika dia melakukan sesuatu.

BACA JUGA : SERI ANAK MANDIRI (#2) : Menumbuhkan Kemandirian Anak Usia Di Bawah 2 Tahun

Komunikasi terbuka akan sangat membantu prosses ini. Anak harus belajar bahwa setiap perbuatan mereka berdampak pada perasaan orang lain, sehingga nantinya mereka punya empati.

Anak perlu dilatih tanggung jawab moral, bahwa setiap perilakunya mengandung dimensi kebaikan dan keburukan, bergantung dari niat, cara, dan akibat perilaku. Dialog juga pintu termudah untuk menanamkan nilai ini.





Anak perlu dilatih tanggung jawab spiritul, yang sebenarnya ini masih satu ranah dengan moral tapi secara spesifik anak perlu punya sudut pandang dosa dan pahala dari setiap perbuatannya. Lebih dari itu, anak perlu diajarkan tentang eksistensi diri sebagai seorang hamba yang niscaya menyembah Tuhan  Sang Pencipta.

BACA JUGA : SERI ANAK MANDIRI (#1) : Mendidik Anak Mandiri Sejak Dini Tanpa Tragedi

Beberapa hal menjadi tantangan mendidik kemandirian anak di usia baligh. Fakta pertama bahwa anak-anak yang keinginannya selalu dituruti, seringkali menjadi anak yang manja, semaunya sendiri, dan sudah diatur. Fakta kedua bahwa anak-anak yang dibantu dan dilayani menjadi kurang mandiri. Fakta ketiga anak-anak yang hidupnya nyaman, jarang ada masalah menjadi kurang sadar akan tanggung jawab. Tiga fakta ini sangat dengan kehidupan anak kita, oleh karena itu perlu pengkondisian khusus agar kemandirian dapat terbentuk.

Setiap anak yang sampai pada usia baligh menanggung dosa dan pahalanya. Ketuntasan kemandirian membentuk siap tanggung jawab, yang membuatnya tidak siap mengemban tanggung jawab sebagai seorang mukallaf.

Sumber : Ani Chistina, :"Tuntas Kemandirian Invertasi Sampai Akhirat, Filla Press, Sidoarjo, 2019.


Post a comment

0 Comments