Subscribe Us

Hindari Kata "Jangan" untuk Mencegah Suatu Perilaku Anak

Hindari Kata Jangan

Hindari Kata "Jangan" untuk Mencegah Suatu Perilaku Anak

DISKUSIKEHIDUPAN.com - Setiap anak sejatinya memiliki kuriositas yang juga bertumbuh seiring dengan pertumbuhan fisiknya. Dalam masa eksplorasi kuriositasnya itu, seringkali anak "bereksperimen"melakukan sesuatu yang menurut orangtuanya dianggap sebagai sesuatu yang berbahaya, tidak baik, melanggar norma, dan lain sebagainya. Secara refleks, orangtua biasanya memekikkan kata "jangan" kepada anak, sebagai bentuk cegahan atas perilaku anak itu.







BACA JUGA : Prinsip Pengasuhan Anak Ala Najelaa Shihab

Terkait dengan kata "jangan" itu, ternyata terdapat banyak "kerugian" didalamnya. Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, atau yang akrab disapa Abah Ihsan dalam bukunya yang berjudul "Yuk, Menjadi Orangtua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih," menuliskan gagasannya seputar hal tersebut.

Berikut ini adalah kutipan dari tulisan Abah Ihsan yang berjudul "Hindari Kata "Jangan" untuk Mencegah Suatu Perilaku."


Sulit bagi siapa pun mematuhi perintah, "Jangan ...." Anda boleh melakukan eksperimen untuk meyakinkan diri sendiri Anda. Kali ini, mintalah pasangan Anda pada waktu yang tidak terduga, melarang Anda melakukan sesuatu.
Misalnya, "Jangan tengok ke bawah." Ke mana mata Anda akan segera tertuju? 
Tepat! Anda mugkin memiliki tekad kuat untuk mematuhi larangan dan dapat mencegah mata Anda melihat ke bawah. Tapi, Anda akan merasakan dorongan yang kuat untuk melirik sedikit ke arah yang dilarang. Ini karena pikiran kita harus membayangkan diri kita melakukan sesuatu sebelum kita dapat menyuruh tubuh untuk melakukan atau tidak melakukannya. 
Bayangkan apa yang terjadi ketika setiap hari anak-anak dihujani perintah-perintah berawalan "Jangan", bahkan sebelum dia sempat bergerak.



"Jangan ganggu adikmu!"
"Jangan bertengkar, ya!"
"Jangan berisik!"
"Jangan tumpahkan makananmu!"
"Jangan sampai jatuh!" 
Sadarilah bahwa ketika melarang, Anda telah menyodorkan sesuatu untuk menjadi fokusnya. Ketika Anda melarangnya menumpahkan makanan, dia harus sungguh-sungguh membayangkan menumpahkan makanan sebelum dia memahami kata-kata Anda. Selain itu, larangan Anda sering terlalu luas untuk dicerna. 
"Jangan ganggu adikmu!" Apa saja yang termasuk dalam kategori mengganggu adik?  
"Aku cuma menarik rambutnya yang keriting itu biar lurus seperti rambutku." 
"Aku cuma mencubit pipinya yang montok, gemes, sih. Kan Bunda juga suka mencubit pipiku." 
"Aku hanya menciumnya, tapi Adik malah jatuh terjengkang." 
"Aku cuma meminjam mainan yang dipegangnya." 
"Aku hanya ...." 





Kemungkinannya tak terbatas. Dan ketika Adik menangis, lalu Anda berkata, "Sudah Bunda bilang, jangan ganggu Adik! Masih saja kamu ganggu dia." 
Cobalah tatap wajahya, selami mata beningnya. Anda akan tahu bahwa dia merasa tidak bersalah sama sekali. Dan benar, dia tidak bersalah. 
Ubahlah larangan Anda menjadi kalimat positif. Geserlah fokusnya, Buatlah dia segera memahami maksud Anda. 
"Kakak paling pintar deh, bikin Adik tersenyum." 
"Nah, mainan ini cukup banyak untuk kalian berdua. Silakan dibagi-bagi ." 
"Kakek sedang tidur. Kasihan Kakek baru sembuh. Ayo, gunakan suara volume dua saja." (Sebelumnya, Anda dan anak sudah pernah melakukan permainan simulasi membesarkan dan mengecilkan volume suara dan melabelinya dengan angka. Satu sama dengan berbisik, hingga lima yang berarti berteriak.)
"Makannya di meja saja, Sayang. Kan, lebih enak daripada ditenteng ke sana ke mari."
"Pegang kuat-kuat."

Demikian tulisan singkat Abah Ihsan tentang "Hindari Kata "Jangan" untuk Mencegah Suatu Perilaku" dalam bukunya Yuk, Menjadi Orangtua Shalih! Sebelum Meminta Anak Shalih,"

Semoga bermanfaat, dan jangan lupa beli bukunya.

BACA JUGA : Viral Yang Menggerakkan, Belajar dari Kasus Perundungan Siswi di SMP Purworejo



Post a comment

0 Comments