Subscribe Us

Anak itu Penjelajah Indrawi: Tugas Orangtua Mengoptimalkannya

Anak itu Penjelajah Indrawi: Tugas Orangtua Mengoptimalkannya





Anak itu Penjelajah Indrawi: Tugas Orangtua Mengoptimalkannya

DISKUSIKEHIDUPAN.com – Heru Kurniawan, salah seorang pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan juga Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto, membuat tulisan yang cukup inspiratif. Tulisan itu berjudul “Anak itu Penjelajah Indrawi: Tugas Orangtua Mengoptimalkannya.” Tulisan tersebut telah dipublikasikan di https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/ dan merupakan kelanjutan dari tulisan lainnya dengan judul yang hampir sama.


Admin DISKUSIKEHIDUPAN.com membagikan tulisan itu sebagai ikhtiyar untuk semakin memperluas sebaran tulisan kaya manfaat itu. Dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada penulis, kami menuliskan ulang tulisan tersebut apa adanya dan kami sertakan pula link tulisan aselinya di bagian bawah. Selamat membaca!

===========================================================

Anak itu Penjelajah Indrawi: Tugas Orangtua Mengoptimalkannya

Ilmuwan fisika sekaligus tokoh pendidikan, Maria Montessori, mengidentifikasi bahwa anak anak memiliki mekanisme mendapatkan pengetahuan yang unik, yaitu melalui indrawinya. Setiap kali indrawi anak-anak bersentuhan dengan benda dan segala hal yang ada di sekelilingnya, maka sistem indrawi anak akan memberikan impresi atau kesan yang kuat ke dalam otak dan pikiran anak anak yang terbatas. 






Impresi inilah yang kemudian secara perlahan dipahami informasinya dan mengembangkan otak dan berpikir anak-anak, dan pada gilirannya anak-anak memahami informasi tentang dunia di sekelilingnya. 

Bagaimana orang tua mengasah dan mengoptimalkan kemampuan indrawi anak? Anak-anak usia dini suka bergerak. Suka meraih segala sesuatu, kemudian menggenggam dan meremas-remas sampai sedemikian rupa, tetawa senang dan suka memasukan apa yang digenggamnya ke dalam mulut. Inilah perilaku si penjelajah indrawi yang sedang memuaskan rasa ingin tahunya dan mengembangkan kemampuan berpikir dan sistem otaknya. 






Dengan kenyataan ini, maka tugas penting orang tua adalah mengondisikan lingkungan sekitar rumah yang menarik, yang penuh dengan benda-benda yang menyempaikan informasi sehingga anak-anak senang dan tertarik untuk menaklukannya. Lebih penting lagi, benda-benda itu adalah informasi penting yang sesuai dengan fisiologi anak-anak usia dini. Misalnya, si penjelajah indrawi diberikan meja dan kursi yang sesuai dengan ukuran tubuhnya sehingga anak-anak bisa menjelajah dan menaklukannya dengan merambat dan kemudian menduduki kursi itu. kemudian di mejanya sudah disediakan mainan atau gambar-gambar yang menarik sehingga anak akan memainkannya. 

Melalui peran dalam menyediakan benda-benda yang menarik dan bisa ditaklukkan oleh anak-anak, maka anak-anak kita akan senang menjelajah. Senang menaklukan benda-benda di sekelilingnya, dan hasilnya, anak-anak kita akan menjadi individu yang pintar dan cerdas karena sistem otak dan berpikirnya bisa bekerja dengan baik dan memiliki pengetahuan yang luas.

Mendampingi Anak 

Tentu saja, dalam proses penaklukan ini, anak-anak sering melakukan hal-hal yang membahayakan dirinya. Misalnya, anak-anak tiba-tiba memanjat tangga terlalu tinggi atau memainkan pisau dan gunting yang bisa melukainya. Di sinilah, anak-anak membutuhkan orang tuanya dalam aktivitas menjelajah ini. Namun, yang perlu diingat, kebutuhan anak terhadap orang tuanya dalam melakukan penjelahan indrawi ini bukan sebagai orang yang melarang. Selalu mengatakan jangan jika anak-anak dalam keadaan berbahaya. 






Yang dibutuhkan anak pada orang tua dalam kegiatan penjelajahannya adalah sebagai pendamping yang selalu memberikan ruang kebebasan anak untuk mengeksplorasi aktivitas penjelajahannya, dan mengarahkan saat kegiatan penjelajahan indrawi anak membahayakan diri anak. Pendampingan orang tua yang benar ini akan semakin aktivitas menjelajah indrasi anak jadi semakin menyenangkan.

Membantu Menyelesaikan 

Kenyataanya, dalam proses menjelajah anak-anak sering mengalami kesulitan. Misalnya, anak-anak tidak bisa menggenggam bola. Selalu lepas saat bola dipegang berkali-kali. Kemudian anak-anak menunjukan ekspresi lelah dan putus asa. Saat keadaan demikian, jangan lekas orang tua membantu dengan menyelesaikan masalah. Ini tidak baik bagi anak-anak karena usaha indrawi anak-anak tidak berlangsung maksimal. 

Padahal usaha maksimal anak-anak dalam menaklukan suatu benda akan memberikan pemahaman yang menyeluruh dalam mengembangkan otak dan berpikir anak. Untuk itu, saat anak dalam kesulitan, orang hanya membantu anak-anak dalam menyelesaikan persoalannya sendiri. Dengan cara ini anak-anak akan merasa senang dan puas. Anak merasa dirinya berhasil, dan pada gilirannya akan memaksimalkan kemampuan otak dan kecerdasan berpikir anak-anak.

===========================================================

Penulis : Heru Kurniawan, pengajar di Institut Agama Islam Negeri Purwokerto dan Founder Rumah Kreatif Wadas Kelir Purwokerto

Sumber: https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=249900831




Post a comment

0 Comments