Subscribe Us

Susur Sungai Siswa SMPN 1 Turi, Antara Edukasi dan Tragedi

Susur Sungai Siswa SMPN 1 Turi, Antara Edukasi dan Tragedi


DISKUSIKEHIDUPAN.com – Prahara yang menimpa ratusan siswa SMPN 1 Turi yang terhanyut saat susur sungai di Sleman telah menjadi duka seluruh masyarakat. Bukan hanya, bagi keluarga besar SMPN 1 Turi maupun para orangtua dan wali siswa. Lagi-lagi, kekuatan internet telah menggerakkan seluruh masyarakat serentak melangitkan doa untuk para korban dan tim penyelamat. 




Pada saat yang sama, sepertinya masyarakat mulai sadar untuk tidak mudah menyebarkan foto dan video para korban yang seringkali berhamburan di media sosial. Memang tidak sepenuhnya hilang, tentu masih banyak yang “nakal” menyebarkan video proses evakuasi dan jasad para korban meninggal. 





Berbagai gambar meme yang berisi himbauan agar tidak menyebarkan foto maupun video korban juga bertebaran di dunia maya. Pesan-pesan itu tentu berisi harapan agar kondisi psikologis keluarga korban tidak semakin terbebani karena melihat keluarganya “diviralkan” dalam kondisi yang membuat pilu kita semua.

BACA JUGA : Pendaftaran KIP-Kuliah Dimulai Awal Maret 2020

Terkait dengan tragedi siswa SMPN 1 Turi itu, kita perlu memahami bahwa terdapat keputusan yang bermasalah dalam mendidik anak. Susur sungai sebagai cara memberikan edukasi bagi anak usia SMP dirasa tidak tepat. Apalagi, jika kita melihat kondisi cuaca yang mestinya menjadi pertimbangan utama.  







Secara normatif teoiritis, susur sungai adalah salah satu kegiatan pengenalan sungai. Susur sungai sejatinya tidak sekedar melihat kondisi sungai, namun juga dapat disertai kegiatan yang lainnya, contohnya adalah kegiatan bersih-bersih sungai. Kegiatan susur sungai menjadi salah satu upaya mengenali potensi sungai. Namun demikian, dalam susur sungai bukan berarti mereka harus masuk ke dalam aliran sungai, terlebih bagi anak-anak dan remaja. Susur sungai bisa dilakukan di luar aliran sungai dan tidak jalan-jalan di dalam aliran sungai.

BACA JUGA : Dana BOS Naik 6,35%, SD-SMA Naik Rp 800 Ribu Per Anak, SMK Tetap

Kegiatan susur sungai sangat berisiko tinggi dan hanya diperkenankan dilakukan orang yang terlatih. Susur sungai juga harus mempertimbangkan kondisi cuaca. Kegiatan susur sungai tidak diperkenankan dilakukan saat musim hujan. Sebab, saat hujan terjadi fenomena alam seperti banjir tidak bisa diprediksi. Banjir bandang tidak bisa diduga, debit air bisa tiba-tiba dan dengan sangat cepat meningkat.







Terlebih, sebelumnya BMKG juga telah memperingatkan bahwa wilayah Sleman dan sekitarnya akan turun hujan sedang hingga lebat saat periswita tersebut terjadi. Saat susur sungai tersebut berlangsung, tiba-tiba aliran air dari hulu membesar dan menghanyutkan siswa. Kemunculan aliran tersebut diperkirakan akibat hujan di hulu Sungai Sempor. Akibatnya, ratusan siswa yang ikut kegiatan susur sungai di lokasi tersebut pun hanyut. Setidaknya enam di antaranya ditemukan tewas.

BACA JUGA : BPS Akan Rekrut 390 Ribu Petugas untuk Sensus Penduduk 2020

Kita semua tentu berharap, semoga niat edukasi yang berakhir menjadi tregedi yang dialami oleh siswa SMPN 1 Turi menjadi pelajaran bagi kita semua. Metode belajar niscaya disesuaikan dengan kondisi anak. Memang dalam kegiatan susur sungai ada banyak manfaatnya, namun resikonya juga patut diperhitungkan. Salah menentukan metode belajar bagi anak tidak selalu berdampak pada perkembangan otaknya, namun bisa jadi pada pertaruhan nyawa. Semoga kita semua dapat belajar dari peristiwa ini.

Untuk siswa dan siswa SMPN 1 Turi, tetaplah semangat belajar. Kalian kuat.




Post a comment

0 Comments