Subscribe Us

[ INSPIRASI ] Aku Hanya Ingin Memuaskan Keingintahuanku


kisah inspirasi sukses, kisah inpiratif, kisah parenting, cerita anak, kisah anak sukses, memukul anak

Aku Hanya Ingin Memuaskan Keingintahuanku





Syahrul terlahir dari keluarga biasa saja. Ayahnya memiliki hobi otomotif, bongkar pasang mesin kendaraan roda dua, menjadi akivitas yang sangat digemari sang ayah.

Di suatu pagi, Syahrul berdiri di depan pintu rumah, memandangi ayahnya yang sibuk memperbaiki sepeda motor di halaman rumahnya. Sang ayah terlihat asyik membongkar satu demi satu onderdil kendaraan roda dua buatan Jepang itu, dan tak sadar kalau Syahrul memerhatikannya sedari tadi. Syahrul terus memerhatikan ayahnya sembari sesekali memainkan mainannya. Jam demi jam berlalu, namun ayah masih tenggelam dalam hobinya itu.


Keesokan harinya, sang bunda mengajak Syahrul ke pasar untuk belanja keperluan sehari-hari. Dengan digandeng sang bunda, Syahrul menyusuri los-los kios yang menjajakan beraneka barang. Beruntung, waktu itu pasar tidak terlalu ramai, sehingga Syahrul dan bunda leluasa menyusuri los yang sempit itu.

Disalah satu los pasar itu, Syahrul dan bundanya melewati toko mainan. Seketika, Syahrul menarik tangan bunda dan merajuk agar dibelikan mainan. Motor-motoran adalah mainan yang dipilih Syahrul. Bunda tidak mengabulkan rajukan Syahrul, karena memang sejak awal hanya berniat membeli keperluan sehari-hari. Mainan tidak masuk dalam daftar belanjanya hari itu.

Mendapat penolakan itu, tangis Syahrul pecah, bunda tetap bersikukuh tak mau membelikan mainan dengan dalih uangnya tak cukup untuk membeli mainan. "Uangnya hanya untuk membeli makanan", bentak sang bunda berusaha meredam tangis anaknya.

Namun, tangis Syahrul kian melengking, dan bahkan mengamuk, orang-orang di sepanjang lorong los pasar itu memandangi mereka berdua. Bunda seperti terpojok ditengah serangan bala tentara lawan di medan pertempuran. Tak kuasa dengan situasi seperti itu, Bunda menyerah dan akhirnya membelikan Syahrul mainan motor-motoran pilihannya. 

Tangis Syahrul tetiba terhenti, berganti senyuman merekah indah di bibirnya. Mimik wajahnya penuh suka, air mata yang mengalir di wajah seketika ia sapu dengan kedua tangannya, wajahnya berseri, hatinya pun berbahagia.




Sepanjang perjalanan pulang, Bunda masih memendam amarah atas peristiwa di pasar tadi. Amarah bercampur malu dirasakan si bunda. Di benaknya, telah tersusun skenario "pembalasan" saat di rumah. Redaksi bentakan untuk menghardik telah disusun rapi dalam otaknya, lengkap dengan peralatan yang akan dipakai, mungkin untuk memukul, atau hanya sekedar menakut-nakuti saja.




Sesampainya dirumah, Syahrul dengan cepat membuka bungkus mainan barunya. Ia sangat berbahagia hari itu. Melihat hal itu, hati Bunda tersentuh. Amarah yang telah terbangun sepanjang perjalanan tadi, perlahan runtuh. Bunda pun ikut tersenyum melihat anaknya se bahagia itu. Uang belanja yang akhirnya harus beralih untuk membeli mainan, ia ikhlaskan.

Hari berganti, Syahrul masih gemar memainkan motor-motorannya itu. Namun, caranya bermain mulai berubah. Ia mulai membongkar mainannya dengan alat-alat yang biasa ayah digunakan untuk membongkar motor. Perlahan, satu persatu komponen mainan baru itu ia copot, terbayang di kepalanya apa yang dilakukan sang ayah. Motor-motoran itu pun sudah tidak jelas lagi bentuknya. "Aku ingin seperti ayah," itulah yang bersemayam dibenaknya.

BACA JUGA :




Tetiba sang bunda menghampiri. Betapa kagetnya sang bunda melihat apa yang dilakukan Syahrul. Amarah yang pernah runtuh tempo hari itu tetiba berdiri kokoh dalam hatinya. Bunda murka besar, suaranya meninggi memuntahkan omelan yang terangkai penuh emosi. "Anak nakal", kata-kata itu menjadi pilihan utama, dan dilontarkan berulang-ulang. Tak cukup hanya melontarkan omelan, puncak emosi bunda berujung pada pada kekerasan fisik, Syahrul dipukul dengan gagang sapu.

Peristiwa dramatis siang itu telah berlalu, emosi sang bunda telah redam seiring berganti waktu. Namun, tidak dengan ingatan keduanya, baik bunda maupun Syahrul masih mengingat betul peristiwa itu.

Di suatu pagi yang cerah, sang ayah kembali sibuk dalam hobinya di halaman, membongkar-bongkar sepeda motornya. Melihat hal itu, tetiba Syahrul mengambil gagang sapu yang dulu pernah dipakai bunda untuk memukulnya saat membongkar motor-motorannya. Dengan gagang sapu itu, Syahrul memukul ayahnya dari belakang.

Betapa marah dan kagetnya sang ayah mendapat pukulan dari anaknya itu. Emosinya secepat kilat meninggi, Syahrul kembali mendulang omelan, bahkan pukulan balik dari ayahnya. "Kamu kurang ajar, anak durhaka," bentak ayah kepada anaknya sembari melayangkan pukulannya. Terbesit sedikit doa dalam hati ayah, agar anaknya jera selepas menerima omelan dan pukulan itu.

Waktu telah berlalu, Syahrul kini telah dewasa. Ia mengadu nasibnya di kota lain, sembari melanjutkan studinya selepas lulus SMA. Saat liburan, Syahrul pulang ke kampung halaman, untuk sekedar bersua dengan keluarga, dan teman-temannya.




Syahrul bersilaturrahim ke rumah kakeknya, karena sudah lama tidak bertemu setelah ia meninggalkan kampungnya. Sesampainya di sana, sang kakek menyambutkan dengan berkata "o.... ini toh cucu kakek yang kata bundanya nakal itu?". Syahrul kaget, kenapa sang ibunda bercerita bahwa anaknya nakal?

Sembari memendam tanya atas omongan kakek, Syahrul bergeser ke rumah paman yang tak jauh dari tempat tinggal kakek. Namun, Syahrul kembali dikejutkan oleh sambutan paman, "loh.... anak kurang ajar sudah pulang, bagaimana dulu rasanya ketika dipukul ayahmu?, makanya jangan durhaka, anak kecil kok memukul ayahnya." 

Hati Syahrul pilu, bayangan bahwa ia akan melepas rindu penuh kebahagiaan bersama keluarganya dikampung tetiba lenyap. Hatinya perlahan mengeras, ia menganggap cerita bunda kepada kakek, seperti halnya cerita ayah kepada paman tentang peristiwa memilukan waktu ia kecil, ternyata lebih diingat daripada kisah masa kecilnya yang sejatinya penuh dengan kebagiaan, kelucuan, dan bahkan prestasi di sekolah.

Terlebih, bagi Syahrul, ia merasa tidak seperti apa yang dituduhkan. Ia menangis meminta mainan hanya karena ingin meniru apa yang dilakukan ayahnya, begitu pula pukulan kepada ayah karena telah dicontohkan oleh sang bunda kepadanya. Syahrul hanya ingin memuaskan keingintahuannya pada waktu itu, seperti halnya anak-anak kecil lainnya.

Syahrul sejatinya hanya satu dari mungkin jutaan anak yang mengalami kisah serupa. Seringkali peristiwa kecil namun kita anggap jelek, lebih menarik untuk dikisahkan kepada orang lain, bahkan seringkali menutupi kebaikan-kebaikan yang sejatinya lebih besar dan lebih mulia.





Post a comment

0 Comments