Subscribe Us

Darurat Narkoba Mengancam Generasi Bangsa

Darurat Narkoba Mengancam Generasi Bangsa


Badan Narkotika Nasional (BNN) dalam situs resminya (https://bnn.go.id) merilis data bahwa sejak tahun 2012  hingga 3 September 2019 terdapat 14.679 kasus narkoba, dan 19.717 tersangka kasus narkoba. Jumlah ini tentu sangat fantastis dan mengejutkan kita bersama, dan bahwa negara ini telah darurat narkoba.

Pada Juni 2019 silam, Kepala BNN Komjen Pol Heru Winarko menyebut, penyalahgunaan narkotika di kalangan remaja semakin meningkat sebesar 24-28 persen. Heru juga memaparkan bahwa para remaja yang terpapar narkotika lebih rentan sebagai pengguna dalam jangka panjang. Hal ini karena mereka memiliki waktu yang cukup panjang dalam mengkonsumsi narkoba.

Dalam lingkup yang lebih luas, World Drugs Reports pada tahun 2018 melaporkan hasil risetnya yang diterbitkan oleh United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), menyebutkan sebanyak 275 juta penduduk di dunia atau 5,6 % dari penduduk dunia (usia 15-64 tahun) pernah mengonsumsi narkoba.

Data-data di atas cukup menjadi bahan renungan kita bersama bahwa Indonesia tengah diterpa badai penyalahgunaan narkoba. Dalam tulisan kali ini, penulis ingin berdiskusi tentang penyebab semakin maraknya pengguna bahkan pecandu narkoba.




Apa Yang Membuat Seseorang Menjadi Pecandu Narkoba?


Sahabat, sebelum kita mendiskusikan perihal penyebab yang mungkin membuat seseorang menjadi pecandu narkoba, kita perlu memahami tentang bagaimana kecanduan itu bisa terjadi.

Dalam bingkai teori, kecanduan adalah kondisi yang membuat seseorang kehilangan kendali atas apa yang ia lakukan, ia gunakan, atau ia konsumsi terhadap suatu hal yang mereka jadikan candu. Hilang kontrol ini bisa disebabkan oleh berbagai hal, dan terjadi pada waktu yang lama.

Dalam konteks ini, kecanduan harus kita bedakan dengan kebiasaan yang dilakukan berulang-ulang. Kebiasaan adalah seperti ketika kita terbiasa melakukan sesuatu, misalnya makan tiga kali sehari pada waktu pagi, siang, dan malam, kita bisa saja menghentikan kebiasaan tersebut kapan saja sesuai dengan situasi dan kondisi yang ada, dan juga mengikuti keinginan pribadi baik secara sadar maupun tidak, seperti disebabkan oleh rasa malas, kesibukan, dan lain sebagainya.

Hal ini berbeda dengan kecanduan. Kecanduan membuat kita seutuhnya kehilangan kontrol terhadap diri sendiri sehingga susah dan/atau tidak mampu untuk menghentikan perilaku itu, terlepas dari segala upaya yang dilakukan untuk menghentikannya.

Hilangnya kontrol ini membuat seorang pecandu cenderung melakukan berbagai cara untuk dapat menuntaskan hasrat akan candunya, tak peduli akan konsekuensi dan risikonya. Karena inilah mengapa para pecandu menjelma menjadi orang-orang nekat yang melakukan apapun dengan cara bagaimanapun demi memenuhi hasrat candunya.

Kecanduan yang dimiliki seseorang lama kelamaan dapat menimbulkan dampak buruk bagi kesehatannya, terutama kesehatan psikologis. Bukan tidak mungkin kecanduan menyebabkan perubahan kepribadian, karakteristik, perilaku, kebiasaan, hingga fungsi otak.

Proses yang terjadi dalam siklus kecanduan cukup rumit. Namun, satu hal yang dapat menyebabkan kecanduan adalah gangguan produksi hormon dopamin. Hormone Dopamin adalah hormon pembuat bahagia yang dilepaskan otak dalam jumlah banyak saat Anda menemukan atau mengalami suatu hal yang membuat Anda senang dan puas, entah itu makanan enak, hubungan seks, hingga obat-obatan zat yang menimbulkan efek ketergantungan seperti alkohol dan rokok.

Apabila kadar dopamin yang dihasilkan oleh otak masih dalam batas normal, maka hal tersebut tidak akan menyebabkan kecanduan. Tetapi saat Anda mengalami kecanduan, objek yang membuat Anda kecanduan tersebut merangsang otak menghasilkan dopamin yang berlebihan.

Narkoba memanipulasi kerja hipotalamus, bagian otak yang bertanggung jawab mengatur emosi dan suasana hati si pemilik tubuh. Narkoba membuat penggunanya merasa sangat bahagia, bersemangat, percaya diri, hingga ‘teler’. Ini adalah akibat dari jumlah dopamin yang dilepaskan otak di luar batas toleransi. Hal inilah yang membuat para artis banyak yang terjerumus dalam lembah narkoba, karena ingin tampil penuh percaya diri saat “bekerja”.



Efek membahagiakan ini akan membuat tubuh secara otomatis mengidam, sehingga membutuhkan penggunaan obat yang berulang dan dalam dosis yang lebih tinggi lagi demi memuaskan kebutuhan akan kebahagiaan ekstrem tersebut. Penyalahgunaan obat dan zat terlarang yang berkepanjangan akan merusak sistem dan sirkuit reseptor motivasi dan penghargaan otak, menyebabkan kecanduan.

Ada beberapa faktor tertentu yang menyebabkan seseorang lebih rentan mengalami kecanduan, misalnya genetik, trauma fisik maupun psikologis, riwayat gangguan mental, hingga sifat impulsif. Di samping itu, ada berbagai hal lainnya yang dapat memengaruhi keputusan seseorang untuk mulai menggunakan narkoba, dan pada akihrnya mengalami kecanduan.
Berikut ulasannya.

Banyak dari kita yang harus merenungkan kembali mengenai masalah kecanduan. Kita biasanya mengaitkan kecanduan dengan lemahnya iman dan pengendalian diri. Namun, alasan sebenarnya di balik keputusan mereka untuk menggunakan narkoba jauh lebih kompleks dari hanya sekadar rusaknya moral.

Kurangnya pemahaman tentang apa yang menjadi faktor risiko dan penyebab seseorang menjadi pecandu narkoba membuat banyak orang terbutakan oleh prasangka. Seseorang yang jatuh dalam jerat candu tidak berdaya untuk mengendalikan hasrat dan perilakunya. Itulah sebabnya mengapa orang yang sedang berusaha lepas dari kecanduan perlu mendapatkan dukungan dan kasih sayang, bukan dikucilkan atau dihakimi.




Post a comment

0 Comments