Subscribe Us

9 Pedoman Mendidik Anak di Era Digital

9 Pedoman Mendidik Anak di Era Digital



9 Pedoman Mendidik Anak di Era Digital

Masa demi masa terus bergulir, perkembangan zaman yang sangat cepat seringkali membuat kita sempoyongan mengikutinya. Tak heran, banyak yang menjadi korban perkembangan zaman, dan hidupnya seakan habis yang untuk mengikut trend.
Kita telah memasuki era digital, dimana nyaris seluruh aktivitas kehidupan ini tidak dapat dilepaskan dari peran teknologi, bahkan dari yang semula masih teknologi analog, telah beralih ke teknologi digital. Setiap era senantiasa memiliki tantangan yang harus dijawab, tak terkecuali pada era digital ini, tantangan telah berubah, maka paradigma dan aksi untuk menjawab tantangan itu pun niscaya disesuaikan, terutama dalam pendidikan anak-anak.
Pada Era digital ini, kita telah dibawa pada suasana baru yang sangat berbeda dengan era sebelumnya. Perubahan dan pengaruh era digital dirasakan nyaris pada semua bidang kehidupan, baik yang memberi dampak positif maupun negatif.
Laporan survei yang dirilis oleh UNICEF bersama Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan Harvard University, menyebutkan bahwa 98% anak dan remaja mengaku tahu tentang internet, dan 79,5% anak dan remaja adalah pengguna internet. Hanya ada sekitar 20% responden yang tidak menggunakan internet, itupun dengan alasan utama karena mereka tidak memiliki perangkat untuk mengakses internet, atau mereka dilarang orang tua untuk mengakses internet.

BACA JUGA

Menghadapi tantangan era digital ini, tentu tidak bijak jika kita terus menutup diri dari teknologi, pun demikian tidak bijak untuk membuka akses tanpa batas terhadap teknologi. Yang diperlukan adalah tindakan yang positif, preventif, dan konstruktif dalam mendidik, mengasuh, mendampingi, mengarahkan dan membina anak-anak kita, baik di rumah, di sekolah, maupun pada lingkungan sekitarnya. Anak-anak harus tetap menjadi asuhan dan didikan orang tua serta guru, bukan asuhan internet dan gadget.

Pedoman Mendidik Anak di Era Digital

Sejatinya para orang tua tidak perlu galau mengikuti akselerasi perkembangan teknologi. Waktu kita akan habis hanya untuk update teknologi terkini, karena nyaris setiap hari, bahkan setiap jam dan menit perkembangan itu terjadi. Hal ini tentu dikecualikan jika kita memang pekerjaan atau profesi kita di bidang teknologi.
Lalu, apa yang harus dilakukan oleh orang tua dalam mendidik anak di era digital seperti sekarang ini, berikut 9 pedoman mendidikan anak di era digital yang penulis sarikan dari berbagai sumber.

Satu, Membangun Komitmen Tanggung Jawab Untuk Mendidik Anak

Orang tua niscaya mengambil tanggung jawab sepenuhnya dalam mendidik anak, karena inilah hakikat tugas utama orang tua. Para pihak lainnya seperti sekolah, madrasah, bimbel, kursus, pesantren, dan lainnya hanya bertugas “membantu” orang tua dalam mendidik anak-anak.
Dengan segala keterbatasnnya, orang tua tidak mampu untuk mengajarkan segala hal kepada anak-anak, maka mereka memerlukan mitra untuk mendidik anak berupa guru, ustaz, sekolah, madrasah atau lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Namun demikian, tanggung jawab utama pendidikan anak tetap ada di tangan orang tua.
Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, orang tualah yang menjadikan anak keluar dari fitrah itu, demikian esensi sabda Rasulullah SAW dalam haditsnya. Ini menjadi tanda bahwa orang tua harus mengambil tanggung jawab pendidikan anak sepenuhnya, walaupun secara teknis bisa meminta bantuan kepada sekolah, madrasah, pesantren, kampus, dan lain sebagainya.



Dua, Menciptakan Kekompakan Dalam Pengasuhan Anak

Kewajiban mendidikan anak bukan hanya terletak pada ibu, atau hanya ayah saja, tetapi ada di keduanya. Kekompakan yang positif dalam mendidik anak antara ibu dan ayah harus diciptakan. Keduanya harus memiliki persepsi dan paradigma yang sama dalam mendidik anak.
Kondisi di atas tentu dikecualikan bagi keluarga dengan kondisi single parent yang memang harus mengasuh dan mendidik anak secara sendirian.
Bagi anak, mendapatkan pengasuhan dari kedua orang tua secara utuh akan berpengaruh secara sangat positif terhadap perkembangan kejiwaannya saat dewasa nanti.
Orang tua perlu menciptakan keseimbangan antara aktivitas di dalam dan di luar rumah. Kedua orang tua juga perlu mengatur waktu, pandai mengelola kegiatan dan perhatian, sehingga semua tugas dan kewajiban baik di dalam rumah maupun di luar rumah bisa terlaksana secara maksimal.

Tiga, Membangun Komunikasi Yang Baik Dengan Anak

Orang tua harus menjalin komunikasi yang baik dengan anak. Dalam menjalin komunikasi, orang tua harus kuat, pintar, hangat, dan bersahabat dengan anak. Orang tua yang kuat artinya memiliki spiritualitas yang tinggi, memiliki visi, cita-cita dan berusaha mewujudkannya dalam keluarga.
Orang tua pintar artinya terus belajar dan menambah ilmu pengetahuan yang diperlukan untuk mendidik anak-anak. Orang tua hangat artinya selalu berlaku lembut, penyayang, penuh cinta kasih terhadap anak, Orang tua bersahabat artinya selalu berkomunikasi, mendengarkan curhat anak, mengerti keinginan anak, dan bisa mengarahkan dengan cara yang menyenangkan anak.
Melalui ikhtiyar ini, anak akan betah bersama orang tua saat di rumah, sekaligus mudah untuk diarahkan dan diingatkan. Anak yang merasa nyaman bersama orang tua berawal dari komunikasi yang baik antara orang tua dengan anak.

Empat, Menjadi Teladan Yang Baik

Anak-anak adalah peniru yang baik, mereka belajar dari apa yang mereka lihat dan rasakan. Karena itu, orang tua niscaya menjadi teladan yang baik bagi mereka. Ajarkan nilai-nilai kebajikan kepada anak sejak dini dengan memberikan teladan, tidak hanya sekedar arahan atau perintah.
Nilai-nilai kebaikan akan mudah tertanam di hati dan jiwa anak jika mereka memeroleh teladan yang baik dari orang tua, dan akan menjadi pedoman bagi sang anak untuk menjalani kehidupan hingga akhir hayatnya. Jika anak memiliki pondasi nilai yang benar dan kuat, akan menjadi modal terbesar dalam menghadapi seluruh bentuk tantangan pada berbagai keadaan dan beragam zaman.

Lima, Membimbing dan Mengawasi

Anak-anak membutuhkan bimbingan tentang berbagai macam hal dalam kehidupannya. Misalnya tentang teknologi, anak harus mendapatkan edukasi tentang penggunaan internet dan gadget secara positif. Ada bimbingan tentang cara pemanfaatan internet, dan rambu-rambu penggunaannya sehingga anak sejak awal sudah mengerti batasan.
Seringkali orang tua memberikan anaknya akses terhadap teknologi tanpa adanya bimbingan. Seperti jika orang tua membelikan anaknya HP, gadget, tablet, laptop, sarana game online dan akses internet, namun tidak diawali dengan bimbingan tentang cara pemanfaatannya secara positif. Akibatnya, anak berpesta pora dengan semua fasilitas yang diberikan orang tua tanpa mengetahui batasan yang semestinya mengikat dirinya.
Selain bimbingan untuk memberikan pengajaran, juga diperlukan pengawasan. Orang tua harus tetap mengawasi anak dalam penggunaan teknologi, jangan sampai kecanduan atau menggunakan untuk hal-hal yang negatif. Orang tua juga perlu mengawasi lingkungan dan teman bergaul anaknya, baik yang secara offline maupun online.

Enam, Menentukan Screen Time dan Family Time

Seperti yang penulis sampaikan di awal tulisan ini, bahwa tidak bijak jika kita terus menutup diri dari teknologi, pun demikian tidak bijak untuk membuka akses tanpa batas terhadap teknologi. Yang diperlukan adalah tindakan yang positif, preventif, dan konstruktif dalam mendidik, mengasuh, mendampingi, mengarahkan dan membina anak-anak kita, terutama saat di rumah.
Orang tua dan anak perlu membangun kesepakatan bersama, tentang aturan di dalam rumah. Dalam hal penggunaan gadget misalnya, perlu disepakati hari apa dan jam berapa, atau berapa jam maksimal penggunaan gadget bagi anak-anak. Bukan hanya untuk anak-anak balita atau anak kecil, namun aturan ini juga berlaku untuk orang tua dan seluruh anggota keluarga.
Seluruh anggota keluarga bersepakat menyusun "family time" bersama-sama, di mana pada waktu tersebut seluruh perangkat harus diletakkan dan dijauhkan dari keluarga. Mereka berinteraksi dan berkomunikasi, atau berkegiatan secara bersama-sama, tanpa gangguan teknologi. Inilah hakikat "screen time", yaitu pembatasan pemakaian secara ketat sehingga keluarga tidak “terjajah” oleh teknologi.
Sangat sering dijumpai, satu keluarga yang berkumpul di rumah atau bepergian bersama-sama dalam rombongan, namun tidak ada interaksi di antara mereka. Semua asyik dengan gadget, semua asyik dengan dunia masing-masing, tanpa peduli lingkungan sekitar. Kondisi ini, walaupun satu keluarga sedang berada di tempat yang sama, tidak bisa disebut sebagai "family time". Itulah "screen time" yang harus dibatasi, dan dibuat kesepakatan bersama dalam keluarga. Kehangatan kasih sayang dalm keluarga tidak boleh tergantikan oleh kehangatan interaksi dengan teknologi.
Namun demikian, orang tua juga tetap harus bijaksana. Jauh dari gadget tidak berarti mematikan seluruh perangkat tersebut. Dalam beberapa peristiwa, seringkali gadget yang menjadi alat andalan komunikasi itu dibutuhkan pada saat genting. Bukan hanya oleh kita, namun sering juga dibutuhkan oleh orang lain yang ingin menghubungi kita karena terjadi insiden darurat dan lainnya. Jadi, tetap sesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan. Mereka orang tua yang beberja sebagai petugas pemadan kebakaran tentu berbeda dengan orang tua yang bekerja sebagai petani. Urgensi dan emergensinya berbeda, sehingga penerapan aturan tentang screen time dan family time juga harus disesuaikan juga.

Tujuh, Menjalin Kemitraan Yang Baik Dengan Pihak Sekolah

Orang tua tidak bisa sendirian dalam mendidik anak, maka harus ada kerjasama dengan pihak sekolah dan lingkungan sekitar dalam mewujudkan generasi bangsa yang berkualitas.
Orang tua dan guru di sekolah harus saling mendukung upaya mewujudkan "good digital citizens", sebab pihak sekolah kerap memiliki pelajaran dan tugas terhadap siswa yang menggunakan perangkat gadget serta koneksi internet.
Kadang dengan alasan mengerjakan tugas sekolah, anak minta dibelikan fasiltas gadget canggih, padahal tuntutan pihak sekolah tidak sampai ke tingkat itu. Hal-hal seperti inilah yang harus terus menerus dikomunikasikan dan disepakati antara orang tua dengan pihak sekolah.
Nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dengan di sekolah, hendaknya saling sinergi dan tidak berbenturan. Pada dasarnya, semua menghendaki lahirnya anak-anak yang salih salihah, takwa, cerdas, trampil, sehat, kuat, kreatif, inovatif, dan berbagai karakter positif lainnya.
Hanya saja, terkadang dijumpai tidak sinkron antara aturan dan nilai-nilai yang ditanamkan di rumah dengan di sekolah. Dampaknya anak akan mengalami keterpecahan, harus percaya kepada siapa. Harus mengikuti siapa. Tentu situasi ini membingunkan bagi anak. Maka sangat penting kerjasama serta sinergi orang tua dengan sekolah agar semua tujuan pembelajaran bisa tercapai dengan optimal.

Delapan, Menciptakan Lingkungan Pembelajar

Lingkungan masyarakat juga harus mendapatkan edukasi dan diajak membuat kesepakatan positif untuk menciptakan suasana kondusif dalam pembelajaran anak. Jika suasana di rumah, sekolah dan lingkungan sekitar sudah kondusif, akan memudahkan untuk mengarahkan anak-anak menuju kebaikan karakter mereka.
Kita ingat kejadian lama, saat masyarakat tengah dihadapkan pada realitas anak-anak yang kecanduan dengan televisi. Muncullah formula jam belajar masyarakat, dimana masyarakat diminta mematikan televisi pada jam 18.00 -- 20.00 karena itu merupakan jam mengaji dan belajar bagi anak.
Formula itu menjadi sangat menarik, bukan soal angka jam yang dipersoalkan, akan tetapi pada keterlibatan masyarakat dalam menciptakan situasi dan kondisi pembelajaran bagi anak-anak. Inilah yang dimaksudkan sebagai lingkungan pembelajaran, karena anak-anak Indonesia tumbuh berkembang di tengah kehidupan masyarakat.
Jika di rumah TV dimatikan, seorang anak bisa keluar untuk menonton TV di rumah tetangga. Jika tetangga terdekat TV-nya juga dimatikan, ia bisa numpang nonton di rumah tetangga sebelahnya lagi. Maka begitu masyarakat semuanya kompak mematikan TV, anak-anak tidak lagi memiliki alternatif.
Sekarang ini, gagasan jam belajar masyarakat itu masih tetap relevan, namun tidak relevan jika yang dimatikan hanya TV. Metode yang sama bisa diberlakukan untuk jam mematikan gadget bagi seluruh anggota keluarga, guna mendukung anak-anak untuk belajar dengan sebaik-baiknya, dalam suasana yang kondusif.

Sembilan, Menjaga Kerukunan Dalam Keluarga

Dari berbagai pedoman di atas, yang lebih utama dan paling utama adalah suasana di dalam keluarga itu sendiri. Sebab, segala sesuatu dimulai dari keluarga. Maka apabila keluarga terjaga kebaikannya, akan berpeluang untuk melahirkan anak-anak yang baik, anak-anak yang salih dan salihah.
Orang tua yang kompak dalam kebaikan, mampu membangun cinta dan kasih sayang, mampu memberikan suasana yang nyaman dalam keluarga, akan berdampak positif bagi anak hingga mereka dewasa kelak. Sebaliknya, orang tua yang sering bertengkar, sering konflik, akan memberikan dampak negatif bagi anak-anak.
E. Mark Cummings, PhD, seorang psikolog dari Universitas Notre Dame menyatakan bahwa pertengkaran orang tua bisa berdampak kepada anak di segala usia. Artinya, dalam konteks pertengkaran orang tua ini, tidak bisa dikatakan bahwa anak tidak akan terdampak jika ia masih sangat kecil, maupun ketika sudah dewasa.
Baik masih bayi maupun anak yang sudah dewasa bahkan sudah berkeluarga, pertengkaran orang tua memiliki dampak negatif bagi mereka. Maka hendaklah menjadi orang tua yang kompak dalam kebaikan, kompak dalam cinta dan kasih sayang, sehingga anak-anak akan tumbuh dalam suasana yang positif dan konstruktif.
Demikian 9 pedoman mendidik anak di era digital seperti saat ini. Seluruh pedoman di atas niscaya diaplikasikan secara kolektif oleh semua komponen anak bangsa, dimulai dari keluarga.

Tips panduan Pedoman Mendidik Anak di Era Digital milenial menurut islam pdf  




Post a comment

0 Comments