Subscribe Us

Sejarah Lahirnya Hari Pramuka di Indonesia

Sejarah Lahirnya Hari Pramuka di Indonesia


Sejarah Lahirnya Hari Pramuka di Indonesia

Agustus menjadi bulan istimewa bagi bangsa Indonesia. Yang paling istimewa tentunya karena Negara Kesaturan Republik Indonesia merdeka pada bulan ini. Namun, selain perayaan hari kemerdekaan, Agustus juga menjadi bulan istimewa bagi Gerakan Praja Muda Karana, yang lebih popular dengan akronim Pramuka.



Presiden Republik Indonesia telah menetapkan tanggal 14 Agustus sebagai hari Pramuka. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Keputusan Presiden RI Nomor 448 tahun 1961. Pada tahun 2019 ini, Pramuka memperingati hari lahirnya yang ke 58.
Dalam tulisan kali ini, admin diskusikehidupan.com ingin berbagi tentang sejarah lahirnya Hari Pramuka di Indonesia yang berhasil dihimpun dari berbagai sumber.
Jauh sebelum lahir di Indonesia, Pramuka telah dikembangkan di Inggris oleh Lord Robert Baden Powell of Gilwell. Ia dilahirkan di London pada 22 Februari 1857. Nama lengkapnya adalah Robert Stephenson Smyth Baden-Powell. Di dunia pandu (baca : Pramuka), ia lebih dikenal dengan sebutan Baden-Powell.
Baden Powell memiliki banyak pengalaman dan keterampilan survival hingga menuliskan pengalamannya itu dalam bukunya yang berjudul 'Aids to Scouting'. Buku ini kemudian menjadi pedoman bagi para tentara muda di Inggris dalam menjalankan tugas-tugas mereka. Bahkan, Baden Powell juga mendapatkan kepercayaan untuk melatih para tentara muda itu.
Kemampuan Powell menulis buku ditunjukkan kembali dalam karya buku berikutnya pada tahun 1908. Powell menulis buku berjudul 'Scouting for Boy', buku ini berisi pengalamannya tentang latihan kepramukaan. Dalam waktu tidak terlalu lama, buku ini tersebar di Inggris, dan negara lain, termasuk diantaranya adalah Indonesia.
Dalam catatan sejarah Pramuka di Indonesia, gerakan kepanduan yang berkembang di Inggris kemudian menyebar ke Belanda. Dari Belanda, kemudian didirikan di Hindia Belanja pada tahun 1912 di Jakarta dengan nama Nederlands Padvinders Vereeniging (NPV), sebelum berganti nama Nederlands Indische Padvinders-Vereeniging pada 4 September 1917. Gerakan ini sebagai bagian dari kepanduan Nederlands Padvinders Organisatie (NPO), yang berpusat di Belanda.
Gerakan kepanduan di bumi nusantara didirikan oleh pribumi asli pada tahun 1916, diprakarsai oleh Pangeran A.A. Mangkunegara VII. Pada pendirian ini, murni dilakukan oleh pribumi tanpa campur tangan dari Belanda. Organisasi itu diberi nama Javaansche Padvinders Organisatie (JPO).
Berdirinya JPO menjadi pemantik semangat pendirian organisasi kepanduan lain di nusantara kala itu, seperti Jong Java Padvindery(JJP), Nationale Islamftsche Padvinderzj (NATIPIJ), Sarekat Islam Afdeling Padvindery (SIAP), dan Padvinders Muhammadiyah yang kemudian menjadi nama Hizbul Wathan atau HW.
Setelah JPO berdiri, pihak Pemerintah Hindia Belanda murka dan melarang penggunaan istilah Padvindery. Menyikapi hal tersebut, KH Agus Salim mencetuskan ide untuk mengganti Padvenders dengan nama pandu atau kepanduan.
Dalam simpul sejarah Indonesia, gerakan pramuka (kepanduaan) juga turut berperan aktif dalam Kongres Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1928, yang kemudian mencetuskan sumpah pemuda, sehingga kepanduan Indonesia semakin berkembang.
Tahun demi tahun, perkembangan kepanduan di Indonesia kian progresif. Pada tahun 1930, organisasi kepanduan seperti IPO, Pandu Kesultanan (PK), dan Pandu Pemuda Sumatra (PPS), bergabung menjadi Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI).
Progresifitas kepanduan terus ditunjukkan, pada tahun 1931 terbentuklah Persatuan Antar Pandu Indonesia (PAPI), yang kemudian pada tahun 1938 berubah menjadi Badan Pusat Persaudaraan Kepanduan Indonesia (BPPKI).



Meskipun perkembangan organisasi kepanduan sangat pesat, namun pada masa penjajahan Jepang, organisasi kepanduan dan partai dilarang untuk beraktivitas. Terlebih, para pandu ikut terjun dan bahu-membahu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Pasca Kemerdekaan Indonesia, sejumlah tokoh dari gerakan kepanduan Indonesia melaksanakan kongres di Solo pada tanggal 28 Desember 1945. Hasil dari kongres itu, terbentuk Pandu Rakyat Indonesia dan menjadi satu-satunya organisasi kepanduan Indonesia dengan keputusan Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan Nomor 93/Bhg.A, tanggal 1 Februari 1947.
Dalam perkembangan berikutnya, ternyata banyak bermunculan organisasi-organisasi kepanduan di Indonesia. Hal ini membuat Menteri Pendidikan, Pengajaran, dan Kebudayaan RI, mengganti keputusan Nomor 93/Bhg.A, Tanggal 1 Februari 1947, dengan Keputusan Nomor 23441/ Kab, Tanggal 6 September 1951.
Dengan adanya peraturan yang baru ini, memungkinkan organisasi kepanduan lain berdiri, selain Pandu Rakyat Indonesia. Maka terbentuklah IPINDO (Ikatan Pandu Indonesia) pada tanggal 16 September 1951, yang diterima menjadi anggota Internasional Conference (Organisasi Kepanduan Sedunia), mewakili Indonesia masuk dalam Far East Regional Scout Officer pada tahun 1953.
Kemudian pada tahun 1954, terbentuklah organisasi POPPINDO (Persaudaraan Organisasi Pandu Puteri Indonesia) dan PKPI (Kepanduan Putri Indonesia) yang melebur menjadi PERKINDO (Persatuan Kepanduan Indonesia).

Bersatu Dalam Gerakan Pramuka

Sepanjang tahun 1950 hingga 1960, telah berdiri banyak organisasi kepanduan di Indonesia. Setidaknya terdapat 100 organisasi kepanduan pada waktu itu, yang terhimpun dalam tiga federasi organisasi, yaitu IPINDO, POPPINDO dan PKPI.

Pada tanggal 9 Maret 1961, Presiden Soekarno memberikan amanat kepada pemimpin pandu di Istana Merdeka. Soekarno membubarkan semua organisasi kepanduan di Indonesia, dan meleburnya menjadi organisasi baru, yang bernama Gerakan Pramuka. Sukarno memberikan amanat kepada pimpinan pandu untuk lebih mengefektifkan kepanduan sebagai komponen penting dalam pembangunan bangsa.

Di Indonesia, lambang Pramuka berupa tunas kelapa berdasarkan Keputusan Presiden RI Nomor 238 Tahun 1961. Setelah itu, pada tanggal 14 Agustus 1961, secara resmi Gerakan Pramuka diperkenalkan kepada masyarakat, setelah Presiden Sukarno menganugerahkan Panji Gerakan Pramuka dengan Keputusan Presiden RI Nomor 448 Tahun 1961.

Berawal dari momentum ini, kemudian setiap tanggal 14 Agustus senantiasa diperingati sebagai Hari Pramuka Nasional.

sejarah hari pramuka 2019 hari pramuka dunia hari pramuka internasional hari pramuka nasional pendiri pramuka




Post a comment

0 Comments