Subscribe Us

Mengajarkan Hikmah Idul Adha Kepada Anak

Mengajarkan Hikmah Idul Adha Kepada Anak


Mengajarkan Hikmah Idul Adha Kepada Anak


Setiap tahun, perayaan Idul Adha menjadi momen penting bagi umat Islam, bahkan seluruh umat manusia. Dalam perspektif pendidikan anak, momentum Idul Adha dapat dijadikan sebagai pembelajaran bagi anak. Banyak nilai dan hikmah yang dapat diambil dari kisah pengorbanan yang dilakukan Nabi Ibrahim yang ikhlas menjalankan perintah Allah atas anaknya, Nabi Ismail.

Dalam perspektif yang lebih luas, ibadah kurban yang dijalankan dalam momentum Idul Adha juga menjadi simbol kesalehan spiritual dan sosial. Makna yang terkandung dalam berkurban dapat menjadi nilai moral dan pendidikan bagi anak. Perintah Allah SWT untuk berkurban meneguhkan bahwa kurban sangat mulia dan penting diedukasikan kepada anak sejak usia dini agar spirit kurban dapat terinternalisasi pada pribadi anak.




Jika kita melihat kondisi pada umumnya, anak-anak memaknai Idul Adha hanya sebatas hari di mana banyak kambing dan sapi dipotong lalu dagingnya dibagikan kepada orang-orang. Pemahaman ini tentu saja wajar, dan tidak salah, karena memang realitasnya demikian. Namun apa yang dipahami itu hanya kulitnya saja, belum pada substansi makna Idul Adha itu sendiri. 

Mengajarkan Hikmah Idul Adha Kepada Anak harus dilakukan oleh setiap orangtua. Orangtua niscaya mengajarkan nilai-nilai penting dari ibadah kurban kepada anak-anak. Mengajarkan nilai-nilai ketaqwaan kepada Allah SWT dari ibadah kurban sejak dini akan membuat anak menjadi pribadi yang sholih. Pengajaran tentang nilai-nilai ibadah kurban dapat dimulai dengan bercerita tentang Kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. 

Setiap anak pada dasarnya memiliki kuriositas (keingintahuan) yang tinggi. Hal ini karena otak mereka sedang dalam pertumbuhan sehingga butuh asupan informasi dan pengetahuan. Keingintahuan itu biasanya diungkapkan dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan kepada orangtua. Misalnya, anak mungkin akan bertanya mengapa hewan yang dijadikan kurban hanya unta, sapi, kerbau, dan kambing. Untuk menjawab pertanyaan ini, ceritakan kisah Nabi Ibrahim yang mendapatkan perintah dari Allah SWT untuk mengorbankan anaknya, Ismail, yang akhirnya diganti oleh Allah SWT dengan domba. 

Untuk menyampaikan kisah tersebut, orang tua harus memahami terlebih dahulu kisah tersebut secara utuh. Selain itu, kemaslah cerita itu dengan Bahasa yang mudah dipahami anak dan menghindari dramatisasi cerita sehingga terkesan mencekam. 

Selain menceritakan kisah nabi di atas, orang tua juga harus menyampaikan hikmah-hikmah berkurban secara lebih spesifik, seperti beberapa hikmah berikut :


Pertama: Rasa Syukur Kepada Allah SWT.

Orang tua harus ingat untuk selalu mengajarkan anak mengungkapkan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Katakan kepada mereka bahwa setiap apa yang ada di bumi ini adalah milik Allah SWT, dan dari-Nya lah rizki dan kenikmatan itu datang. Sebab rizki dan nikmat itulah yang mendorong orang-orang yang mampu untuk berkurban. Dengan ajaran yang seperti itu sejak dini kepada anak, maka orangtua akan melihat anak tumbuh dengan pemahaman rasa syukur yang dalam.


Kedua: Memahami Tujuan Hidup

Filosofi berkurban adalah sebagai bukti kepasrahan dan keihlasan untuk menjalankan perintah Allah SWT. Momen berkurban dapat mengajarkan pada anak untuk percaya dan memahami tujuan hidup beribadah pada Allah. Selain itu, mengajari tanggung jawab atas harta yang dimiliki merupakan harta orang lain yang sebenarnya dititipkan Sang Pencipta pada manusia. Hal penting ini bisa diajarkan pada anak agar anak-anak tidak sombong atas harta yang dimilikinya.





Ketiga: Segala Sesuatu yang Ingin Dicapai Butuh Pengorbanan

Berkurban dapat memperkenalkan pada anak-anak tentang arti penting sebuah pengorbanan untuk mencapai sesuatu. Dengan begitu, anak-anak menyadari tidak ada sesuatu yang bisa didapat dengan instan di dunia ini.

Sehingga pada suatu titik anak perlu melakukan pengorbanan untuk mencapai tujuan yang ingin diraihnya. Hal ini penting untuk diajarkan pada anak agar ia kelak tidak menjadi anak yang manja.
Sebagai orang tua, Ayah/Bunda bisa mengajarkan pada anak dalam kehidupan sehari-hari. Ajak anak saat membeli hewan kurban. Jelaskan bahwa untuk membeli hewan untuk dikurbankan pada Idul Adha, orangtua harus bersabar dan berusaha keras mengumpulkan uang yang cukup.


Keempat: Kepedulian Sosial  

Berkurban merupakan perwujudan kepedulian sosial terhadap sesama. Nilai ini sangat penting untuk diajarkan pada anak-anak di tengah gemparan media sosial dimana interaksi sosial di dunia nyata jarang terjadi bahkan tidak ada sehingga mengakibatkan anak tidak lagi peduli dengan manusia lainnya. Padahal kehidupan sosial sangatlah penting dalam kehidupan sehari-hari.

Kurban bisa meluaskan pandangan anak tentang lingkungan sekitar. Ajak anak-anak untuk melihat bahwa masih banyak orang yang tidak beruntung di dunia untuk bisa berkurban. Menimbulkan kesadaran anak akan pentingnya sosialisasi dalam kehidupan sehari-hari dapat mengajarkan pentingnya untuk berbagi. Manfaatkan momen kurban agar anak-anak lebih peka terhadap kondisi di sekitarnya.


Kelima: Membahagiakan Orang Lain

Kurban memiliki banyak keutamaan yang sangat baik bila diajarkan pada anak-anak sejak usianya masih kecil. Salah satu keutamaan yang bisa diajarkan adalah dapat membahagiakan mustahiq atau orang-orang yang berhak untuk menerima daging hewan kurban yang telah disembelih.

Berkurban memiliki dampak positif bagi kehidupan sehari-hari. Jika diajarkan dengan benar pada anak-anak maka ia pun akan tumbuh dengan rasa selalu ingin membuat bahagia orang-orang di sekitarnya.

Kurban idul adha adalah jatuh pada tanggal 10 dzul hijjah untuk orang yang meninggal kurban kambing kurban sapi untuk berapa orang




Post a comment

0 Comments