Subscribe Us

Bukan Hanya Anak yang Harus Mendengarkan, Orangtua pun Harus Belajar Mendengarkan Anak

Bukan Hanya Anak yang Harus Mendengarkan, Orangtua pun Harus Belajar Mendengarkan Anak
gambar : www.melbournechildpsychology.com.au

Bukan Hanya Anak yang Harus Mendengarkan, Orangtua pun Harus Belajar Mendengarkan Anak



Dalam beberapa literatur ilmu parenting, terdapat adagium yang cukup populer, yakni “dengarkan anak dan anda akan lebih mudah menguasainya”. Sekilas adagium ini Nampak berlebihan, namun jika dipahami secara mendalam kita akan paham bahwa hal itu justru tidak berlebihan sama sekali. Dalam arti bahwa jika hati anak sudah “terambil”, maka dia akan lebih mudah dikendalikan.




Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari, atau yang lebih akrab dipanggil Abah Ihsan, dalam bukunya “Renungan Dahsyat untuk Orangtua”, mengingatkan kita bahwa menguasai anak bukahlah tujuan. Mengendalikan anak juga bukan cara terbaik mengatur perilaku anak. Hal yang terbaik adalah melatih anak untuk mengendalikan perlakunya sendiri. Orangtua tidak bisa melatih anak untuk mengendalikan dirinya jika tidak bisa mengendalikan mereka.

Ada dua jalan utama yang ditawarkan oleh Abah Ihsan bagi orangtua agar dapat menguasai anak, atau dalam Bahasa yang lebih halus, agar orangtua dapat mengendalikan perilaku anak. Pertama, berkomitmen untuk bersikap dan berperilaku tegas kepada anak. Kedua, berkomitmen untuk mendengarkan anak. Untuk melakukan dua jalan ini, orangtua perlu berlatih.

Jika seorang anak didengarkan, maka dia akan merasa diakui. Jika seorang anak diakui, maka dia akan merasa dihargai, maka dia akan memiliki konsep diri positif tentang dirinya sendiri. Jika konsep diri anak positif, maka dia akan mudah mengeluarkan potensi-potensi positifnya. Sehingga, orangtua akan merasakan betapa skor kebaikannya melejit setiap hari.

Jika seorang anak didengarkan, maka dia pun akan merasa dekat dengan orangtuanya. Jika seorang anak merasa dekat dengan orangtuanya, maka dia akan sangat, sangat, sangat mudah untuk mendengarkan pesan-pesan dari orangtuanya. Kalau anak sudah mendengarkan pesan-pesan orangtuanya, maka bukankah kita telah berhasil mengendalikan anak?

Mendengarkan seharusnya adalah pekerjaan yang paling mudah dilakukan. Tindakan ini tidak memerlukan alat canggih dan tidak memerlukan biaya. Mendengarkan bisa dilakukan kapan pun dan di mana pun. Kalaupun kita tengah tidak bisa mendengarka, cukup katakan pada anak “Ayah dan Bunda mau mendengarkan ceritamu, tapi nanti ya satu jam lagi (atau dua jam lagi, malam hari, dan seterusnya).”

Saat anak berbicara, itu kesempatan bagus untuk menjalin kedekatan emosional dengan anak. Kita akan menyesal suatu saat nanti jika ternyata anak kita lebih memilih berbicara dengan gurunya atau lawan jenis yang disukainya dibandingkan kita sebagai orangtuanya.[admin]



Post a comment

0 Comments