Subscribe Us

Tips Mengajarkan Anak Disiplin

Tips Mengajarkan Anak Disiplin

diskusikehidupan.com | Hai sahabat diskusi, sembari menikmati tayangan langsung sidang sengketa Pilpres di Mahkamah Konstitusikali ini admin ingin berbagi tips mengajarkan anak disiplin. Tips ini semoga bermanfaat bagi para orangtua yang tengah berupaya mengajarkan anak-anaknya tentang kedisiplinan, agar tidak “terjerumus” dalam jurang “salah asuh”. Hal ini penting untuk diketahui oleh para orangtua karena seringkali disiplin dikonotasikan dengan tindakan orangtua terhadap anak berupa pengekangan fisik, tutur kata yang menghentak, dan gestur yang gagah penuh amarah. 


Tips Mengajarkan Anak Disiplin
Tips Mengajarkan Anak Disiplin [gambar : www.playgroupnsw.org.au]

Kenapa Mengajarkan Anak Disiplin itu Penting?

Diantara tanda orang yang sukses lahir-batin adalah memiliki sikap disiplin yang tinggi. Melalui kedisiplinan, seseorang dapat mengembangkan potensi dahsyat yang tersembunyi dalam dirinya. Mereka mampu mendaki puncak sukses bukan karena sebuah tindakan melainkan karena sebuah kebiasaan.





Dalam bingkai teori, para psikolog mengatakan bahwa konstruksi kebiasaan manusia dibentuk dari tindakan yang dilakukan secara istikamah, berulang-ulang, selama minimal 30 hari. 


Orangtua memiliki peran penting dalam memberikan teladan untuk mengajarkan anak disiplin. Apa yang diperbuat oleh orangtua akan menjadi cermin bagi anak-anak. Dengan demikian maka menjadi sulit mengajarkan anak disiplin jika orangtua belum memberikan contoh nyata perilaku disiplin.

Bagaimana Tips Mengajarkan Anak Disiplin ?

Sudah menjadi tugas setiap orangtua untuk mengajarkan anak-anak mereka tentang kedisiplinan sejak usia dini. Kedisiplinan yang telah tertanam sejak dini akan menjadi bekal berharga bagi anak dimasa-masa yang akan datang saat mereka dewasa nanti.

Banyak psikolog yang menyatakan bahwa disiplin adalah aset yang sangat berharga dan luar biasa untuk mengatasi tantangan hidup di masa yang akan datang. Nyatanya, telah banyak masalah yang dapat dihindari atau dikendalikan ketika seseorang memiliki sikap disiplin/kontrol diri yang tinggi.

Lalu, apa yang dapat kita lakukan untuk mengajarkan anak disiplin? Berikut ini adalah beberapa tips yang dihimpun oleh redaksi diskusikehidupan.com yang patut dilakukan oleh para orangtua.

IDENTIFIKASI PEMICU TANTRUM ANAK

Secara leksikal, tantrum adalah kemarahan dengan amukan karena ketidakmampuan mengungkapkan keinginan atau kebutuhan dengan kata-kata. Dalam ilmu psikologi anak, tantrum adalah kejadian yang wajar terjadi pada setiap anak. Maka itu, setiap orangtua harus tahu betul apa yang membuat anaknya tantrum dan rewel. Hindari mengajarkan disiplin anak pada waktu-waktu yang biasanya memicum tantrum anak muncul, seperti saat anak merasa lapar, atau kantuk.

JANGAN MUDAH EMOSI

Orangtua harus memiliki stok sabar yang melimpah saat mendidik anak-anaknya. Hindari membentak atau memarahi si kecil saat ia tidak mau disiplin. Pasalnya, hal ini hanya akan membuat pesan positif yang Anda utarakan hilang begitu saja di benak si kecil. Ketika si kecil menangkap aura negatif dari amarah orangtua, dia hanya akan melihat bentuk emosinya dan tidak akan mendengar apa yang Anda katakan.

Tetaplah bersikap tenang di depan si kecil, jangan emosi. Ingat!, menegur dan bersikap tegas bukan berarti harus disertai dengan emosi.

IKUTI POLA PIKIR ANAK

Pola pikir orangtua berbeda dengan pola pikir anak. Hal ini sering memicu emosi orangtua, namun juga menjadi pemicu tantrum pada anak. Jika tidak ada kerjasama yang baik antara orangtua dan anak tentang pola pikir ini, tentu yang muncul adalah ledakan emosi orangtua, dan anak. 


Misalnya, dalam pikiran orangtua, membereskan mainan setelah bermain adalah sesuatu yang sangat mudah, dan dapat cepat diselesaikan, tetapi belum tentu untuk si kecil. Oleh karena itu, coba ikuti pola pikir anak!. 


Dalam pikiran anak, bermain dengan mainan kesukaannya adalah kegiatan yang menyenangkan. Usia balita adalah masa bagi si kecil belajar dan mengenal apa yang ada di sekitarnya. Jadi, orangtua jangan mudah kesal karena si kecil tidak mau disuruh untuk membereskan mainnanya. Orangtua bisa ikut membantu membereskan mainan dan memberi contoh yang baik padanya. 


Anak perlu diajari bahwa merapikan kembali mainannya adalah tugasnya. Dengan demikian, secara perlahan anak akan terbiasa untuk melakukannya. Jangan lupa berikan si kecil pujian jika ia berhasil membereskan mainannya sendiri.

CIPTAKAN LINGKUNGAN YANG KONSUSIF 

Setiap anak sedang mengalami masa perkembangan rasa kuriositasnya, sehingga seakan tak ada habisnya dan ingin menjelajahi semua hal baru. Orangtua sebaiknya menghindari berbagai hal yang dapat membuyarkan konsentrasi anak. Ciptakan lingkungan yang kondusif dan sesuai dengan keadaan si kecil agar ia dapat menjali masa pertumbuhannya dengan baik. 

Rex Forehand, Heinz, dan Rowena Ansbacher, profesor psikologi di University of Vermont, mengungkapkan bahwa orangtua perlu menciptakan suasana yang kondusif saat mendidik anak mereka. Bahkan saat si kecil mulai membangkang, orangtua tidak boleh menghukum anak tetapi justru memindahkan mereka ke aktivitas lain yang dapat mengalihkan perhatiannya.




JIKA HARUS MENGHUKUM, BERIKAN HUKUMAN YANG MENDIDIK, BUKAN MENYIKSA

Hukuman yang diberikan kepada anak dalam keadaan tertentu diperlukan untuk menunjukkan sikap tegas dalam mendidik anak. Namun demikian, orangtua juga harus mengukur hukuman yang diberikan pada anak, jangan terlalu memberatkan, apalagi menyiksa. 


Hukuman harus dipahami hanya dilakukan untuk membuat si kecil belajar disiplin.Misalnya saja, saat si kecil memukul, menggigit, atau melemparkan makanannya, bawa si kecil ke kamarnya atau ke ruangan yang lebih privat. Kemudian, minta ia untuk diam di ruangan tersebut dan memikirkan apa yang telah ia lakukan selama beberapa saat. Setelah itu, ajak ia bersikap lebih tenang dan berikan pemahaman bahwa sikap si kecil perlu diperbaiki beserta alasannya.

BACA JUGA : Menjadi Orangtua Shalih Ala Abah Ihsan

BERPIKIR POSITIF

Tidak ada manusia yang sempurna, pun demikian tidak ada orangtua yang sempurna. Tidak perlu membanding kedisiplinan anak Anda dengan anak lain seusianya. Karena setiap anak memiliki masa perkembangan yang berbeda-beda dan tidak bisa disamakan. Lakukan saja hal-hal terbaik yang Anda mampu lakukan.

Jangan pernah menghitung rasa stress yang Anda alami karena berusaha mendidik si kecil agar disiplin, tetaplah berpikir positif. Percayalah bahwa Anda mampu mendidik anak dengan sebaik-baiknya. 

ISTIKAMAH DALAM MENGARJARKAN DISIPLIN

Orangtua dituntut istikamah dalam mengajarkan anak disiplin. Claire Lerner, seorang spesialis perkembangan anak, menyatakan bahwa sejak usia 2 sampai 3 tahun anak-anak bekerja keras untuk memahami tentang perilaku orang-orang di sekitarnya. 

Lerner mengatakan bahwa pola asuh yang diterapkan secara rutin dan konsisten dapat membuat anak merasa lebih aman dan terlindungi. Anak menjadi tahu apa yang diharapkan oleh orangtuanya sehingga dapat bersikap lebih tenang saat diberikan perintah.

BACA JUGA : Pendidik Tidak Hanya Guru di Sekolah, Saatnya Menjadikan Orangtua Sebagai Pendidik di Rumah




Post a comment

0 Comments