Subscribe Us

Melindungi Anak-anak dari Bahaya Pornografi

Melindungi Anak-anak dari Bahaya Pornografi
diskusikehidupan.com – Fenomena pornografi dan pornoaksi di Indonesia telah menjadi bahaya serius yang mengancam masa depan generasi bangsa. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi menjadi instrumen yang sangat berperan dalam semakin mengguritanya bahaya pornografi dan pornoaksi. Diperlukan upaya massif dan sinergis oleh seluruh komponen bangsa agar dampak negatif pornografi dapat diperlahan lajunya, bahkan dihentikan.

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang Melindungi Anak-anak dari Bahaya Pornografi, kita perlu memahami apa itu pornografi? Pemahaman ini penting sebagai pondasi penyamaan persepsi bersama demi menghindari tafsir-tafsir lain dalam memberikan definisi tentang pornografi. Pemahaman tentang definisi ini juga penting untuk mendiagnosis fenomena yang terjadi sesuai dengan batasan-batasan dari definisi yang ada.




Secara leksikal, Kamus Besar Bahasa Indonesia memberikan definisi pornografi sebagai penggambaran tingkah laku secara erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu berahi, atau bahan bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan nafsu berahi. Adapun Pasal 1 Undang-Undang Republik IndonesiaNomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi menyebutkan bahwa Pornografi adalah gambar, sketsa, ilustrasi, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat.

Secara lebih spesifik, Munif Chatib memberikan definisi pornografi dengan segala media yang memunculkan materi seksualitas dan dapat menimbulkan adiktif (kecanduan) serta menyebabkan kerusakan moral dan melanggar nilai-nilai kesusilaan yang umum. Media berpotensi memunculkan penyakit otak pornografi. Masih menurut Munif, dalam konteks ini maka pendidikan melek media sangat penting diketahui semua pihak, terutama orangtua. Hal ini sebagai ikhtiyar membangun benteng pencegahan anak terpapar pornografi sejak dari rumah.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Victor Cline, dari University of Utah, Amerika Serikat, menyimpulkan bahwa setidaknya ada lima dampak negatif dan proses munculnya penyakit pornografi, yaitu :

SHOCK (TERKEJUT ATAU JIJIK)

Pada tahan ini, seseorang akan mengalami perkenalan pertama dengan pornografi. Pada awalnya akan muncur perasaan jijik, terkejut, dan merasa bersalah. Namun demikian, gabungan dari rasa-rasa ini justru akan memantik rasa ingin tahu yang lebih, dan ingin mengulanginya kembali.

ADIKSI (KECANDUAN)

Adiksi adalah efek selanjutnya yang timbul setelah mengalami shock. Sekali seseorang menyukai materi cabul, dia akan merasa ketagihan. Hal ini bahkan dapat terjadi pada orang yang berpendidikan atau pemeluk agama yang taat sekalipun.

ESKALASI (PENINGKATAN)

Eskalasi adalah efek yang timbul setelah adiksi. Akibatnya, seseorang akan lebih membutuhkan materi seksual yang lebih eksplisit dan lebih menyimpang. Efek kecanduan dan eskalasi menyebabkan tumbuhnya peningkatan permintaan terhadap materi pornografi tersebut.

DESENTIFISASI (PENUMPULAN KEPEKAAN)

Selanjutnya, timbul efek desenifisasi. Pada tahap ini, materi yang tabu, amoral, mengejukan, pelan-pelan akan menjadi sesuatu yang biasa. Pengguna pornografi bahkan menjadi cenderung sensitif terhadap korban kekerasan seksual yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

ACT-OUT (BERBUAT)

Efek act-out merupakan efek puncak, yakni melakukan hubungan seks setelah terekspos materi-materi pornografi.

 Bagaimana Cara Melindungi Anak-anak dari Bahaya Pornografi?

Melindungi anak-anak dari bahaya pornografi berarti juga mengendalikan media-media yang menjadi piranti akses terhadap material atau konten pornografi. Dalam konteks ini, media memang memiliki sisi negatif dan juga positif. Mana yang dominan dari kedua sisi tersebut? Jawabannya tentu kembali kepada kita sendiri, karena semua bergantung kepada kendali yang kita berikan. Apapun varian konten media yang ada, orangtua memegang posisi penting dalam melindungi anak-anaknya dari bahaya pornografi yang ditimbulkan oleh media dan sulit dibendung keberadaannya.



Munif Chatib, dalam buku Orangtuanya Manusia memberikan beberapa saran praktis bagi orang tua untuk melindungi anak dari dampak negatif media.

Pendidikan agama yang lebih dalam

Tak pelak lagi, pemahaman anak tentang agama sekarang ini harus diberi porsi besar karena sejatinya agama itu tidak terpisah dari problem-problem kehidupan. Bahkan, agama adalah integrase dalam setiap problem kehidupan sehingga agama harus menjadi obat yang manjur apabila diri kita terkena penyakit-penyakit sosial masyarakat. Dengan perkembangan teknologi dan media, pemahaman anak terhadap agama akan menjadi tameng yang akan melindunginya dari pengaruh negatif media.

Mengetahi terlebih dahulu isi media informasi untuk anak

Orangtua harus selalu tahu isi dari media informasi yang diberikan kepada anak dengan membaca, atau menontonnya terlebih dahulu sehingga orangtua peka terhadap unsur-unsur pornografi terkait.
Mendampingi anak dalam menggunakan media informasi
Orangtua seyogyanya mendampingi anak-anak saat mereka menggunakan media informasi. Pada saat menonton televisi, orangtua haruslah mendampingi anak-anak. Hal ini semestinya sederhana, tetapi kebanyakan terbentur dengan kesibukan pekerjaan sehari-hari sehingga orangtua tak punya waktu lagi untuk mendampingi anak-anak menonton televisi. Demikian pula, saat menggunakan internet, usahakan anda ikut terlibat di dalamnya sehingga orangtua juga dituntut untuk memahami computer dan internet.

Membuat kesepakatan aturan menggunakan media informasi

Orangtua harus membuat kesepakatan aturan untuk menggunakan media informasi. Persoalan yang sering terjadi adalah anak kita sedang keranjingan bermain game, dia bahkan melakukannya sampai pula waktu sehingga orangtua sulit untuk langsung melarangnya sebab game sendiri sepert punya daya sihir luar biasa yang menarik perhatian penggunanya. Jangankan anak-anak, orangtua pun terkadang ikut tergila-gila dengan game. Saran praktis untuk menyelesaikan masalah ini adalah dengan membuat kesepakatan waktu untuk bermain game setiap harinya. Contohnya, kesepakatan dengan anak untuk bermain game (daring maupun luring) selama satu jam pada pukul empat hingga lima sore pada hari Sabtu, Ahad, dan Rabu.

Menggunakan media informasi menjadi sarana belajar dan membuat proyek

Seyogianya orangtua meminta dan mengajari anak membuat proyek kreatif, misalnya menulis puisi, artikel, atau cerita bergambar, kemudian membantu mereka untuk bisa menampilkan (upload) hasil karya mereka dalam situs anak yang dapat menampung aspirasi mereka. Jika mungkin, anda buatkanlah situs sendiri, misalnya dengan membuat blog. Media internet sebenarnya dapat menjadi tantangan untuk membuat penelitian, dengan narasumber dari berbagai situs yang dapat dicari dengan berselancar di internet. Oleh karena itu, sebaiknya orangtua tetap mendampingi mereka mencari data.

Mengetahui cara membendung dan menghindari situs porno

Pengetahuan tentang cara membendung dan menghindari situs-situs porno sangatlah vital untuk dipahami dan dikuasai orangtua. Sebenarnya, cara melindungi agar media internet aman untuk anak tidaklah begitu sulit dan orangtua dapat belajar dengan mudah dan cepat.
Tips-tips praktis untuk mempraktikkan cara membendung dan menghindari situs porno ini akan kami bahas secara detail dalam artikel berikutnya.

Video Viral Anak Banyuwangi telah memaksa kita untuk memahami bahaya pornografi dan cara menghilangkan kecanduan pornografi, karena banyak aplikasi pornografi dan konten-konten porno yang mudah diakses tanpa blokir dan dapat di download gratis


Sumber Bacaan
Chatib, Munif. 2012. Orangtuanya Manusia; Melejitkan Potensi dan Kecerdasan dengan Menghargai Fitrah Setiap Anak. Bandung: Mizan Pustaka.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi



Post a comment

0 Comments