Subscribe Us

Apakah Multiple Intelligences Itu? #2



Hai Sahabat diskusikehidupan.com. Dalam postingan kali ini, admin akan melanjutkan pembahasan tentang  multiple intelligences (kecerdasan majemuk). Tulisan ini adalah lanjutan dari pembahasa sebelumnya yang berjudul “Apakah Multiple Intelligence Itu #1”. Jika Sahabat belum membacanya, bisa klik di sini.

Dalam tulisan sebelumnya, fokus bahasan kita adalah tentang definisi multiple intelligence dan jenis-jenis kecerdasan. Selanjutnya, kita akan membahas tentang stimulasi kecerdasan anak.

Thomas Armstrong telah mendharmakan dirinya selama dua puluh tahun untuk meneliti dan mengaplikasikan teori multiple intelligences ke dalam dunia pendidikan klasikal sehingga ia berhasil menjelaskan hal-hal penting seputar multiple intelligences pada anak. Beberapa temuannya adalah sebagai berikut:
    1. Semua kecerdasan itu sederajat meskipun masing-masing punya kriteria yang berbeda. Tidak ada kecerdasan yang lebih baik atau lebih penting daripada yang lainnya. Artinya, jika anak kita memiliki kecerdasan matematis-logis yang kuat, bukan berarti dia hebat disebabkan kecerdasan matematis-logis lebih baik daripada kecerdasan lain, kecerdasan musik misalnya. Jadi, tidak ada kastanisasi dalam kecerdasan jamak.
    2. Setiap anak dapat memiliki beberapa kecerdasan sekaligus. Misalkan, kemampuan anak kita baik pada kecerdasan matematis-logis, maka sah-sah saja jika dia juga ingin mengembangkan kemampuan menggambarnya.
    3. Setiap kecerdasan punya banyak indikator. Contohnya, kecerdasan linguistil memiliki indikator kemampuan mendengar, berbicara, menulis, dan membaca. Nah, anak Anda tidak mahir berpidato atau berceramah, tetapi dia pandai menulis sebuah karya tulis,maka anak Anda sudah cukup untuk dikatakan memiliki kecerdasan linguistik.
    4. Indikator kecerdasan yang berbeda-beda saling bekerja sama hampir di setiap aktivitas anak kita. Ketika anak punya kemampuan cerdas menggambar, dengan sendirinya indikator kecerdasan kinestetis juga bekerja; gerakan jari-jemari sehingga menghasilkan lukisan yang indah. Jangan lupa, kejelian menggambar atau melukis secara detail merupakan salah satu indikator kecerdasan naturalis.

    Semua kecerdasan di atas tersebut ditemukan di seluruh lintar budaya dan negara mana pun, dan usia berapa pun. Jadi, tidak benar jika ras tertentu lebih cerdas daripada ras lainnya.

    Idealnya, orangtua memahami betapa banyak harta karun yang ada dalam diri anaknya. Jika paradigma memandang kecerdasan ini dimiliki orangtua, kekhawatiran tentang kemampuan anak-anaknya akan hilang.

    Orangtua seharusnya mendukung anaknya dengan selalu menghadirkan pengalaman belajar yang menyenangkan sebab akan menjadi pendorong berkembangnya kecerdasan anak. Sebaliknya, kebiasaan memberikan pengalaman yang menegangkan atau menakukan kepada anak akan menjadi penghambat berkembangnya kecerdasan anak.




    Menurut Howard Gardner dalam Frame of Mind, kecerdasan anak kita sangat dipengaruhi oleh stimulus dari lingkungannya. Stimulus tersebut akan membentuk pengalaman dalam otak anak. Ternyata, ada dua jenis pengalaman yang berasal dari stimulus lingkungan, yaitu : crystallizing experience, dan paralyzing experiences.


    Crystallizing experiences adalah pengalaman seseorang dari informasi yang diterima sehingga memberikan kekuatan positif kepada dirinya. Pengalaman-pelangalaman tersebut berkaitan dengan pemberian apresiasi atau motivasi untuk berhasil. Pengalaman positif itu akan mengkristal dalam diri orang tersebut sehingga crystallizing experiences menjadi pengalaman yang berfungsi sebagai pendorong munculnya kecerdasan seseorang.

    Contoh dari crystallizing experiences adalah Albert Einstein. Saat masih SD, dia anak yang lambat dalam menerima informasi dan juga penyandang disleksia-gangguan membaca. Namun, sang ayah selalu memberikan banyak pengalaman positif. Semangat Einstein yang manyala telah berhasil memantik rasa ingin tahunya terus-menerus. Terutama, setelah yang ayah memberikan sebuah kompas untuk diamati, digunakan, dan diteliti. Pemberian kompas tersebut menjadi crystallizing experience bagi Einstein. Setelah itu, satu demi satu kecerdasannya mulai berkembang.

    Paralyzing experiences adalah pengalaman seseorang dari informasi yang mematikan semangat dan motivasinya dalam proses belajar. Pengalaman-pengalaman negatif ini biasanya berhubungan dengan seseorang yang tidak pernah mendapatkan apresiasi atas sesuatu yang sudah dia lakukan, juga erat kaitannya dengan tekanan-tekanan psikologis yang berasal dari keluarga atau lingkungan yang tidak mendukung proses belajar dan kecerdasannya. Paralyzing experiences ini merupakan pengalaman yang menghambat munculnya kecerdasan seseorang. Contohnya, anak-anak yang berada di darah konflik atau peperangan selalu hidup dalam ketakutan sehingga, tak salah, mereka akan mengalami paralyzing experiences.

    Selain itu, orangtua yang selalu menekan anak agar selalu berada di peringkat satu atau selalu menyalahkan anak atas sesuatu yang sudah dikerjakan, apalagi dengan membentak atau memukul. Pengalaman negatif tersebut akan meredam munculnya kecerdasan anak.


    multiple intelligence
    multiple intelligence adalah
    tes multiple intelligence untuk anak
    multiple intelligence adalah pdf
    multiple intelligence artinya
    multiple intelligence menurut gardner
    gardner multiple intelligence

    Post a comment

    0 Comments