Subscribe Us

BAHAYA MENYAKITI GURU


Beberapa hari ini sedang viral di media sosial sebuah pesan tentang Bahaya Menyakiti Guru. Belum jelas siapa yang membuat pesan tersebut, dan siapa pula yang pertama kali menyebarluaskannya. Terlepas dari hal tersebut, patut kita resapi isi pesan tersebut. Didalamnya banyak pesan-pesan yang bijak tentang keutamaan menghormati guru, tentunya dengan lebih menekankan pada Bayasa Menyakiti Guru, sesuai dengan judul dari pesannya.

Bagi yang penasaran dengan isi pesan tersebut, berikut ini admin tuliskan dalam postingan ini, semoga bermanfaat.


BAHAYA MENYAKITI GURU

Saat ngaji rutinan Alhikam di PP Almuhibbin Bahrul Ulum Tambakberas Senin (7/1/2019), KH Mohammad Djamaludin Ahmad menjelaskan bahayanya menyakiti guru. ’’Orang yang menyakiti guru, akan diuji dengan tiga hal,’’ jelasnya.
Pertama, lisannya ketul. Tak bisa menyampaikan ilmu.
 Kedua, hilang semua hafalannya.
 Ketiga, hidup fakir sebelum matinya.
Kiai Jamal lalu cerita temannya. Orang itu sangat pintar dan kritis. Dia suka menguji guru. Setiap guru mengajar, dia selalu mengajukan pertanyaan yang sulit-sulit. ’’Dia tidak berhenti bertanya sebelum gurunya tak bisa menjawab,’’ jelasnya. Tidak jarang gurunya dibuat menangis karena saking terjepitnya menghadapi pertanyaannya.
Namun begitu lulus,  ilmunya tidak manfaat sama sekali. Di masyarakat dia tidak kanggo. Bahkan sebelum wafat, hidupnya serba kekurangan.
Rois Syuriah PCNU Jombang KH Abd Nashir Fattah sering menyampaikan dawuh Sayyid Muhammad Almaliki.
Pertama, menancapnya ilmu itu dengan muzakaroh, nderes, sinau atau belajar.
Kedua, manfaatnya ilmu dengan khidmah pada guru.
Maksudnya, kalau ingin ilmunya manfaat, harus tawadlu kepada guru, mengabdi dan melayani guru. Seperti Sayidina Ali yang berkata, aku adalah budak orang yang mengajariku walaupun satu huruf.
Masya Allah. Murid sekarang. Malah ada yang minta ditraktir gurunya.. hehe
Ketiga, Sayyid Muhammad Almaliki dawuh, barokahnya ilmu dengan rida masayikh.
KH Mahrus, Rois syuriah MWCNU Ngoro yang juga kepala MTs Bahrul Ulum Genukwatu waktu ngajar di kelas pernah cerita.
Suatu ketika Syaikhona Kholil Bangkalan sedih karena cincin istrinya terjatuh di WC. Padahal cincin itu kenang-kenangan dari teman istrinya kala haji. Mengetahui kegelisahan gurunya, KH Hasyim Asy’ari Tebuireng langsung masuk WC mencari cincin itu. Setelah cincin ketemu dan tubuhnya sudah tidak bau kotoran, Kiai  Hasyim memberikan cincin tersebut kepada Kiai Kholil.
Tahu cincin istrinya ketemu, Kiai Kholil sangat gembira. Beliau pun sangat rida dengan Kiai Hasyim. Kiai Kholil memberikan semua ilmunya dan menyuruh Kiai Hasyim pulang.
Jadinya, ilmu yang diberikan kepada Kiai Hasyim sangat barokah seperti sekarang.
Santri dulu, jika pamit pulang liburan atau pamit boyong, tapi kiainya tidak mengizinkan. Maka tidak pulang. Tidak boyong.
Kiai Husein Ilyas Mojokerto pernah cerita. Beliau waktu nyantri disuruh mijitin kiai. Mulai malam sampai pagi beliau tidak berhenti memijit. Walaupun kiainya sudah tertidur. Begitu kiainya terbangun dan tahu Kiai Husein memijitnya sepanjang malam, beliaupun sangat rida. Dan memberikan semua ilmunya.
Mugi Allah paring saget meneladani.



Demikian pesan cukup panjang yang sudah tersebar di berbagai WAG, Facebook, dan Twitter.




Post a comment

0 Comments